“Kami fokus menjaga kebersihan kandang dan memberikan vitamin secara rutin. Untuk ternak yang sakit, kami berikan pereda nyeri dan suplemen agar nafsu makannya meningkat,” ujarnya.
Baca Juga :Minimarket Berjejaring Semakin Menjamur, Komisi II DPRD Kota Blitar: Diduga Mengelabui Aturan
Meski vaksin dari dinas peternakan belum tersedia, kelompok ini tidak tinggal diam. “Kami melakukan vaksinasi mandiri sambil memberikan minuman tradisional seperti empon-empon untuk memperkuat daya tahan tubuh ternak,” tambah Dimyati.
Ia menekankan pentingnya semangat dan kebersamaan dalam menghadapi wabah ini. “Kalau ternak mau makan, insya Allah PMK bisa dikendalikan. Kami tidak akan menyerah demi kesehatan ternak dan keberlangsungan usaha peternakan kami,” tegasnya.
Baca Juga :Virus HMPV Belum Terdeteksi di Kediri, ini Pesan Dinas Kesehatan
PMK yang menyerang ternak di Desa Tanggungan tidak hanya menjadi ujian bagi kesehatan ternak, tetapi juga bagi keberlangsungan ekonomi para peternak. Mukminin, yang menggantungkan hidupnya dari beternak, berharap wabah ini segera berlalu.
“Kalau sapinya sehat, kami bisa bekerja dengan tenang. Tapi kalau sapinya sakit, ya kami ikut bingung,” katanya.
Mukminin berharap pemerintah daerah dapat memberikan bantuan lebih, terutama ketersediaan vaksin yang hingga kini belum mereka dapatkan.
Baca Juga :Jelang Ditutup, Pendaftar PPPK Gelombang 2 Kota Blitar Tembus Ratusan
Dengan semangat gotong royong, kelompok ternak Lembu Sejahtera terus berupaya menjaga kesehatan ternak mereka. “Kami berjuang bersama. Kalau ada masalah, kami selesaikan bersama,” pungkas Dimyati.
Di tengah tantangan wabah PMK, kerja keras dan kolaborasi menjadi kunci bagi para peternak Gudo untuk melindungi ternak mereka, sekaligus menjaga harapan untuk masa depan yang lebih baik.



















