“Kitab ini sering digunakan dalam ngaji kilatan di bulan Ramadan. Harapan kami, para santri bisa meneladani ilmu yang telah mereka pelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar KH Fahmi Amrullah Hadziq, Rabu (5/3/2025).
Para santri memanfaatkan kitab-kitab tersebut untuk mendalami pemahaman agama melalui metode ngaji kilatan, sebuah tradisi belajar kitab kuning yang berlangsung intensif selama bulan Ramadan.
Selain At-Tibyan, masih banyak kitab lain yang menjadi rujukan dalam pembelajaran di pesantren ini. Tradisi menjaga dan menghidupkan kembali karya-karya ulama terdahulu menjadi bagian dari upaya mempertahankan warisan intelektual Islam di Nusantara.
Pondok Pesantren Tebuireng, yang didirikan langsung oleh KH Hasyim Asy’ari, tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam tetapi juga penjaga khazanah ilmu yang diwariskannya.
Dengan adanya perpustakaan khusus ini, diharapkan generasi muda semakin mengenal dan memahami ajaran para ulama terdahulu.



















