Hal itu sesuai dengan kewenangannya. Pihaknya mendampingi karena berkaitan dengan mental dan trauma. “Iya, kami atensi soal ini. Nantinya akan kami damping. Agar tak terulang lagi, kami juga terus sosialisasi ke sekolah-sekolah,” katanya.
Seperti diketahui, media sosial di Blitar digegerkan dengan aksi bullying atau perundungan. Seorang anak perempuan dibully hanya karena meng-like postingan salah satu pelaku perundungan.
Dalam tayangan di media sosial itu, seorang perempuan tengah berada di jembatan merah. Di lokasi itu ada segerombolan anak baru gede. Korban yang hanya seorang diri, itu selanjutnya dimintai keterangan oleh beberapa pelaku. Puncaknya, beberapa di antaranya mengolok-olok dan berakhir dengan tendangan dan pukulan.
Baca Juga :Muliakan Jemaah, Masjid Ar-Rahman Kota Blitar Sediakan 1.000 Porsi Menu Buka Puasa
Hasil penyelidikan, aksi bullying itu terjadi pada Februari 2025 lalu. Lokasinya di jembatan perbatasan antara Kecamatan Srengat dengan Sanankulon. Tetapi setelah didalami lebih lanjut, lokasi masuk Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon.
Saat itu, korban yang berada di rumah dijemput oleh para pelaku di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Ada empat Perempuan yang notabene teman satu bangku salah satu SMP di Blitar. Ada yang berasal dari wilayah Srengat ada pula yang Sanankulon.
Sampai di rumah korban, pelaku mengajak untuk keluar sebentar. Jarak antara rumah dengan lokasi kejadian juga tak jauh.



















