Jombang, SEJAHTERA.CO – Musim tanam melon tahun ini membuat petani di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, harap-harap cemas.
Hujan yang turun hampir setiap hari sejak awal Juni menyebabkan banyak tanaman melon layu sebelum waktunya, bahkan sebagian besar terancam gagal panen.
Muslik, petani melon asal Dusun Pucanganom, adalah salah satu yang merasakan dampak paling nyata. Ia baru saja menanam ulang setelah tanaman sebelumnya rusak akibat banjir, namun kini tanaman barunya kembali terancam.
“Sekarang umur tanamannya baru 35 hari. Tapi sudah mulai layu karena hujan terus,” keluh Muslik, Rabu (9/7/2025).
Baca Juga :Harga Tomat Melonjak Tinggi di Kota Batu Tembus Rp23 Ribu
Untuk menyelamatkan tanamannya, Muslik harus menyemprot pestisida hingga tiga kali seminggu guna mengatasi jamur yang berkembang akibat lembabnya cuaca. Namun, semua itu membutuhkan biaya tidak sedikit.
“Modalnya sudah Rp 50 juta. Kalau gagal lagi, bisa habis semuanya. Kita cuma bisa berdoa, semoga cuaca segera membaik,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, melon dipanen pada usia 60 hari. Dari satu hektare lahan, petani bisa menghasilkan sekitar 35 ton buah. Jika harga jual stabil di angka Rp 5.000 per kilogram, potensi omzet bisa mencapai Rp 175 juta per hektare. Namun semua itu hanya bisa tercapai jika cuaca mendukung.



















