Prosesi jamasan ini dipimpin oleh Ki Brodin, seorang dalang kondang asal Kediri. Yang istimewa, air yang digunakan dalam ritual tersebut berasal dari tujuh sumber mata air keramat di Kabupaten Kediri, antara lain: Sumber Tirto Kamandanu, Sumber Menang, Sumber Bendo Tanjung Pagu, Sumber Tengger/Kemanten, Sumber Kendung Pagu, Sumber Wonorejo Semanding Pagu, dan Sumber Sumberjo.
Eko Priatno, Kepala Bidang Museum dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri, menjelaskan bahwa arca Dwarapala Totok Kerot berasal dari abad ke-10 hingga 11, masa kejayaan Kerajaan Kadiri. Salah satu ciri khas arca ini adalah adanya ornamen tengkorak yang menjadi simbol kekuatan atau penjagaan sakral.
“Selain nilai sejarahnya, ada pula cerita rakyat yang berkembang. Konon, arca ini adalah jelmaan seorang putri dari wilayah selatan yang melamar Raja Sri Aji Jayabaya. Karena lamarannya ditolak dan sang raja murka, putri itu pun disabdakan menjadi arca,” ungkap Eko.
Upacara jamasan ini tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga warisan sejarah yang ada di Bumi Kediri. Disparbud berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai kekayaan budaya dan spiritual masyarakat lokal.



















