Di tengah riuh tawa warga, doa bersama tetap khidmat. Setelah itu, tumpeng dan ingkung disantap bersama-sama. Bagi masyarakat desa, momen ini menjadi simbol kebersamaan, kebahagiaan, dan keyakinan bahwa keberkahan datang dari Tuhan.
Baca Juga :Hujan Deras Picu Longsor di Tulungagung, 8 Rumah Rusak dan Sekolah Ambruk
Kepala Desa Glinggang, Gunung, menegaskan bahwa Methik Pari adalah wujud syukur atas limpahan hasil bumi, khususnya padi.
“Tujuannya ini bentuk syukur kepada Allah SWT bahwa seluruh warga Desa Glinggang diberi panen yang melimpah ruah, selamat. Kemarin kan banyak serangan hama, dan di Glinggang semuanya selamat, panennya juga bagus,” ujarnya.
Gunung menyebut, wilayah Glinggang memiliki sekitar 110 hektare lahan pertanian, sebagian besar ditanami padi. Dalam sepekan mendatang, sawah-sawah itu akan memasuki masa panen raya. “Alhamdulillah semoga setiap tahun hasil panen di Desa Glinggang bisa tetap melimpah,” katanya penuh harap.
Tradisi Methik Pari menjadi bukti bahwa hasil pertanian bukan hanya soal panen dan angka produksi. Ia adalah perayaan kehidupan, penghormatan kepada alam, dan pengikat tali persaudaraan antarwarga desa.
Baca Juga :Peluncuran Buku Pilkada Kabupaten Kediri, KPU Gandeng UIN Syekh Wasil
Di Glinggang, sawah bukan hanya ladang rezeki, tetapi juga panggung budaya yang menjaga harmoni antara manusia, tanah, dan Sang Pencipta.



















