Baca Juga :Pemkab Kediri Resmikan Dua Kampung Siaga Bencana untuk Perkuat Kesiapsiagaan Warga
“Kami minta warga tidak abai terhadap tanda-tanda alam. Jika muncul retakan di tanah, pohon miring, atau air keruh mengalir deras dari lereng, segera lapor ke BPBD,” tegas Suwoko.
Sementara itu, Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat strategi mitigasi. Tahun ini, Pemkot melakukan revitalisasi saluran air menggunakan box culvert, pemetaan ulang zona rawan bencana, hingga susur sungai di 94 titik, termasuk di Sungai Sumberbrantas, Pusung Lading, Glagah Wangi, dan Krecek.
Selain pembangunan fisik, Pemkot juga fokus menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan warga, melalui pelatihan relawan, simulasi tanggap darurat, dan program sekolah aman bencana.
“Penanganan bencana harus bergeser dari pola reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kolaborasi adalah kunci,” ungkapnya.
Baca Juga :Taman Pedestrian Barat Kali Paron Lampaui 80 Persen, Usung Konsep Sejarah dan Budaya Kediri
Upaya ini mulai menunjukkan hasil. Indeks risiko bencana Kota Batu turun dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 pada 2024, berkat sinergi Pemkot, Forkopimda, dunia usaha, ormas, dan masyarakat.
Dengan curah hujan yang diprediksi tetap tinggi hingga akhir tahun, Pemkot Batu kembali mengingatkan agar kewaspadaan tidak kendur.
“Kita tidak bisa menghentikan bencana, tapi kita bisa meminimalkan dampaknya,” pungkasnya.



















