Meski sempat kesulitan, binar matanya menunjukkan rasa bangga saat anyamannya mulai terbentuk.
“Awalnya susah, janurnya suka lepas. Tapi setelah dibimbing Bu Guru, akhirnya bisa meskipun masih agak miring. Seru banget, nanti mau coba bantu orang tua di rumah,” cerita Jesika dengan polosnya.
Kegiatan ini pun memicu interaksi hangat antara sekolah dan lingkungan rumah. Mujirahayu, salah satu orang tua murid yang hadir, memberikan apresiasi tinggi.
Ia menilai langkah sekolah ini sangat relevan untuk mengenalkan proses di balik sebuah hasil yang selama ini sering dianggap praktis oleh anak-anak.
“Kegiatan seperti ini bagus sekali. Anak jadi tahu bahwa ketupat tidak hanya dibeli jadi, tetapi ada proses pembuatannya yang sarat makna. Kami berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan setiap tahunnya,” tutur Mujirahayu penuh harap.
Puncak acara ditutup dengan tradisi Halalbihalal yang khidmat. Setelah lelah menganyam, seluruh siswa dan tenaga pengajar saling berjabat tangan, meleburkan segala khilaf dalam antrean maaf yang panjang.
Baca Juga :Konflik Timur Tengah Memanas, Begini Nasib 732 Calon Jemaah Haji Nganjuk Tahun 2026
Prosesi ini kemudian dipungkasi dengan makan bersama ketupat yang telah disiapkan, seolah merayakan keberhasilan mereka dalam memahami filosofi “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) yang terkandung dalam sebungkus ketupat.
Melalui kegiatan ini, SDN Menturus tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran langit melalui maaf, dan kesadaran bumi melalui pelestarian kearifan lokal.



















