Namun berbeda dengan penerapan ORI di Desa Ringinpitu Kecamatan Kedungwaru yang dilakukan tanpa melihat status imunisasinya tetap dilakukan vaksinasi campak.
Dengan begitu, sebanyak 350 balita di Desa Ringinpitu harus menjalani vaksinasi campak meski sebelumnya sudah imunisasi lengkap.
“Campak di Tulungagung belum masuk kejadian luar biasa (KLB), jadi rekomendasinya hanya imunisasi kejar saja,” ujarnya.
“Tetapi sesuai hasil epidemiologi, di wilayah Ringinpitu banyak suspek campak, sehingga kami menerapkan kegiatan ORI,” ungkapnya.
Terkait upaya menekan kasus campak, Aris menyebut, pihaknya pada tahun 2026 ini terus melakukan pendataan terkait anak balita di Tulungagung yang belum mendapat vaksin campak atau bahkan belum lengkap.
Nantinya, balita itu akan segera dilakukan vaksinasi campak untuk menguatkan imunitasnya kelompok.
Meski begitu, pihaknya mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terlalu khawatir dengan kasus campak, mengingat campak sendiri bisa ditangani melalui vaksinasi.
Baca Juga :Gempar, Warga Klemunan Nekat Tiduran di Atas Rel KA Berujung MD
Maka, masyarakat yang memiliki balita dan belum atau belum lengkap mendapat vaksin campak, diminta untuk segera melakukan vaksinasi.
“Vaksinasi campak bisa dilakukan di posyandu maupun di puskesmas. Jadi kalau ada tetangganya yang memiliki balita dan belum mendapat vaksin campak, mohon segera melakukan vaksinasi,” pungkasnya.



















