Kisah Marsel, Penjual Polo Pendem Usia 16 Tahun di Babat Lamongan yang Ingin Kembali Sekolah

Ilham Putra Marselino saat berjualan jajanan tradisional Polo Pendem di Kawasan Tugu Wingko Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.
Ilham Putra Marselino saat berjualan jajanan tradisional Polo Pendem di Kawasan Tugu Wingko Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.(suprapto/memo)

Di tengah penghasilan keluarga yang terbatas, biaya pengobatan dan kebutuhan rutin lainnya menjadi beban tersendiri. Karena itu, kepastian akses terhadap layanan kesehatan menjadi salah satu harapan keluarga tersebut.

Saat ditemui di rumahnya, Sumarlik mengungkapkan bahwa dirinya memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun, menurut pengakuannya, kedua kartu tersebut sudah lama tidak aktif.

“Saya mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), tapi sudah lama tidak aktif,” ungkap Sumarlik.

Read More

Ia berharap status kepesertaan KIS dapat kembali aktif agar dirinya lebih mudah mengakses layanan pengobatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Di tengah perjuangannya melawan penyakit, Sumarlik juga menyimpan keinginan besar agar anaknya bisa kembali bersekolah. Ia berharap Marsel dapat melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa harus terus mengesampingkan kebutuhan belajarnya demi membantu keluarga.

Meski kini harus bekerja di jalanan, Marsel mengaku belum mengubur cita-citanya untuk kembali belajar. Ia masih ingin mengenakan seragam sekolah, bertemu teman-teman sebaya, dan menyelesaikan pendidikan yang sempat terhenti.

Harapan itu semakin tumbuh setelah melihat temannya, Reno, yang juga berjualan polo pendem dan disebut telah mendapatkan beasiswa sehingga bisa kembali bersekolah.

Pengalaman Reno menjadi penyemangat bagi Marsel. Ia berharap memperoleh kesempatan serupa agar dapat kembali menempuh pendidikan tanpa mengabaikan kondisi ibunya yang membutuhkan perhatian.

Bagi remaja seusianya, sekolah semestinya menjadi tempat menimba ilmu dan mempersiapkan masa depan. Namun, bagi Marsel, perjuangan itu untuk sementara harus dijalani di antara gerobak dagangan, jajanan tradisional, dan kendaraan yang terus berlalu-lalang di kawasan Tugu Wingko Babat.

Ia tidak meminta kehidupan yang berlebihan. Marsel hanya ingin keluarganya tetap bertahan, ibunya mendapatkan pengobatan yang layak, dan dirinya kembali memiliki kesempatan untuk belajar.

Kisah Marsel menggambarkan persoalan ekonomi dan keluarga yang dapat membuat seorang anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian agar anak tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan, meski keluarganya tengah menghadapi kesulitan.

Penelusuran status kepesertaan bantuan kesehatan, dukungan terhadap pengobatan sang ibu, serta akses terhadap program bantuan pendidikan yang sesuai dapat menjadi langkah awal untuk membantu keluarga tersebut.

Baca juga:Dipicu Masalah Kaos Kaki, Oknum TNI Diduga Aniaya Kepala Sekolah MI di Glagah Lamongan Hingga Babak Belur

Kini, Marsel masih menjalani hari-harinya dengan berjualan polo pendem di kawasan Tugu Wingko Babat. Di tengah segala keterbatasan, ia tetap menyimpan harapan sederhana: ibunya lekas membaik, beban keluarga berkurang, dan suatu hari nanti dirinya bisa kembali duduk di bangku sekolah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *