Surabaya, SEJAHTERA.CO – Dua bulan, dua pelukis berkarakter dari Jombang pameran tunggal di Surabaya, tepatnya di Galeri Merah Putih –Kompleks Alun-alun Surabaya.
Pada Desember 2024, di galeri yang sama, Cak Luk, begitu nama panggungnya, pameran tunggal dengan tema Genthong Menep yang mengangkat kehidupan rakyat dan kearifan lokal dengan gaya relief.
Kini, satu lagi pelukis asal Jombang, Triyoso Yusuf, juga berpameran tunggal di Galeri Merah Putih – Kompleks Alun-alun Surabaya atau Balai Pemuda pada 8 – 13 Februari 2025.
Baca Juga :Pesantren Jati Diri Bangsa Kediri Berikan Pelatihan Ketahanan Pangan Gratis
Karya Triyoso Yusuf juga mengangkat kesenian wayang kulit dan kearifan lokal, utamanya di kawasan atau ikon Kabupaten Jombang, yaitu Wonosalam.
Pameran tunggal yang bertema Dolan Wonosalam ini menghadirkan sejumlah karya masterpiece-nya, di antaranya Bancakan Salak Galengdowo.
Menggambarkan gunungan salak yang dikerumuni masyarakat sekitar atau wisatawan yang sedang berkunjung ke lokasi wisata Wonosalam, Kabupaten Jombang.
Kemudian karya Kenduren Wonosalam atau istilah kekiniannya, KenDuren Wonosalam. Ini juga menggambarkan gunungan buah durian yang diperebutkan masyarakat sekitar dan wisatawan.
Baca Juga :Jumlah Kasus Ternak Terpapar PMK di Kabupaten Kediri Capai 1116 Ekor
Acara KenDuren Wonosalam ini memang sangat kental dengan kearifan lokal, karena sudah menjadi tradisi atau digelar setiap tahun yang menghadirkan banyak wisatawan.
Kegiatan bancakan dan kenduren (hajatan) ini yang menyuguhkan produk unggulan, buah salak dan durian secara gratis ini, merupakan bentuk syukur para petaninya.
Mereka merasa mendapat berkah dengan hasil buah yang melimpah, akhirnya diwujudkan dalam bentuk bagi-bagi secara gratis dengan kemasan wisata.



















