Kediri, SEJAHTERA.CO – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kediri tahun ini berlangsung berbeda. Bukan sekadar seremoni, momentum ini berubah menjadi panggung doa bersama lintas komunitas yang menyerukan perdamaian dunia. Kegiatan tersebut digelar di Situs Persada Soekarno (Ndalem Pojok), Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat malam (1/5/2026).
Baca juga:Bupati Kediri Ajak Jaga Toleransi Antarumat Beragama di Perayaan Nyepi 1948 Saka
Mengusung tema “Pendidikan Jati Diri Bangsa Merajut Perdamaian Dunia”, acara ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, tokoh lintas komunitas, serta pegiat pendidikan dan kebudayaan.
Suasana khidmat terasa sejak awal kegiatan yang diawali dengan lagu Indonesia Raya dan pembacaan Sumpah Jati Diri Bangsa.
Pemilihan Situs Ndalem Pojok bukan tanpa alasan. Tempat ini dikenal sebagai salah satu jejak masa kecil Soekarno yang diyakini menjadi ruang tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan kemanusiaan sang Proklamator.
Ketua panitia, R.M. W.T. Suhardono, S.E., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk refleksi sekaligus respons terhadap situasi global yang kian memanas.
“Spirit dari Ndalem Pojok inilah yang melahirkan gagasan besar Bung Karno tentang perdamaian dunia. Dari tempat sederhana ini, lahir pemikiran yang mampu menyatukan bangsa-bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki sejarah kuat dalam diplomasi perdamaian, salah satunya melalui penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara berkembang.
“Hari ini, di tengah ancaman konflik global, Indonesia harus kembali mengambil peran strategis sebagai penengah yang berwibawa,” tegasnya.
Selain refleksi sejarah, kegiatan ini juga mengangkat pendekatan spiritual dan ilmiah dalam memaknai kekuatan doa. Dalam sesi pemaparan, dijelaskan bahwa doa kolektif diyakini memiliki dampak signifikan, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga dalam perspektif sains modern.



















