“Itu akan menjadi salah satu jalan akses atau alternatif bagi masyarakat dari arah Mrican dan Banyakan. Jika tidak lewat tol bisa lewat Ngampel-Gayam,” ungkap Made.
Pembangunan masih belum dilaksanakan dan masih menjadi wacana karena harus ada pembicaraan dengan warga karena jalan Ngampel-Gayam melewati sawah dan perkampungan.
Dengan posisi warga yang masih sensitif dengan pembebasan lahan, pihak Dinas PUPR tidak ingin ambil resiko dan memilih untuk mengundur wacana pelebaran jalan Ngampel-Gayam.
“Untuk saat ini pembangunannya dilakukan secara bertahap, biar jalan tol diselesaikan dulu, baru kemudian kita tata lagi seperti apa,” katanya.
Selain itu juga menimbang kondisi emosional atau belum kondusif dari warga sendiri. Karena kita tahu dari kasus jalan tol kemarin masyarakat ada yang sampai pasang poster protes.
“Dikhawatirkan ketika kita mendesain yang lain lagi, nanti adanya hal-hal serupa,” pungkas Made. (c1).



















