Kediri, SEJAHTERA.CO – Mandeknya pembangunan Alun-alun Kota Kediri menyebabkan Pedagang Kaki Lima (PKL) resah. Karena perkiraan kelanjutan pembangunan baru dilakukan tahun 2025 dan diprediksi selesai tahun 2026.
Selama masa pembangunan alun-alun, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri menyebutkan, PKL di sekitar alun-alun mengalami penurunan omzet.
Hal tersebut didapat setelah Disperdagin mengumpulkan PKL untuk mendengarkan usulan PKL terdampak proses pembangunan alun-alun tanggal 13 Desember 2023 lalu. Hasilnya para PKL yang tergabung dalam paguyuban mengusulkan beberapa permintaan.
“Dalam pertemuan ini mereka mengajukan beberapa permintaan, yaitu yang pertama bantuan modal sejumlah Rp 2,5 juta perorang dalam satu tahun agar mereka tetap bisa berjualan, kemudian kami coba untuk mengurangi beban dengan membebaskan retribusi kebersihan dan juga pembayaran listrik,” jelas kepala Disperdagin Kota Kediri, Wahyu Kusuma. (13/12).
Usulan dari PKL yang ditampung oleh Disperdagin telah disampaikan kepada PJ Wali Kota Kediri, Zanariah yang saat ini masih menunggu jawaban dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora).
Evaluasi selama satu tahun yang dilakukan oleh Disperdagin selama tahun 2023 omzet PKL yang ada di sekitar alun-alun menurun drastis. Dari 97 PKL terdata oleh dinas, ada 15 PKL berhenti berjualan karena modal tidak kembali.
“Nantinya juga ada pemindahan PKL karena di depan alun-alun dibuat pos tahun baru, ada 12 PKL yang akan dipindah,” jelas Wahyu.



















