Pohon Sawo Jadi Ciri Khas, Musala An-Nur, Saksi Bisu Perjuangan Pangeran Diponegoro

Pohon Sawo Jadi Ciri Khas, Musala An-Nur, Saksi Bisu Perjuangan Pangeran Diponegoro

Blitar, SEJAHTERA.CO – Meski daerah kecil, Kota Blitar juga pernah disambangi pasukan Diponegoro. Itu terbukti dengan adanya musala atau langgar yang kini masih kokoh berdiri. Lokasinya di Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Di Ramadan ini Musala An-Nur, namanya ramai dengan giat keagamaan.

Tak sulit mencari musala bersejarah di Kota Blitar. Hampir semua warga asli Kota Blitar mengenalnya. Musala ini dikenal dengan sebutan langgar gantung. Disebut langgar gantung karena seklias tidak bersinggungan dengan tanah. Musala hanya ditopang tiang-tiang kayu. Namun seiring usia, tiang fondasi itu dibalut dengan semen.

Menginjakkan kaki di latar atau halaman musala vibes atau suasana bangunan khas tempo dulu sudah terlihat. Dinding musala terbuat dari anyaman bambu  atau gedhek berukuran besar.

Read More

Dulu kala, tak jauh dari halaman ada kolam yang menjadi ciri khas bangunan peninggalan pasukan Diponegoro. Begitu juga dengan banyaknya pohon sawo. “Dulu  pohon sawonya banyak, tetapi kini tinggal dua saja,” kata Isman Hadi.

Ya, Isman Hadi adalah Ketua Takmir Musala An-Nur. Dia selama ini ditugasi untuk mengurusi seluk beluk musala. Termasuk di antaranya mengisi sejumlah kegiatan di Ramadan.

“Musala ini bentuknya hampir tak berubah. Hanya beberapa material yang diganti karena usia,” katanya.

Hal yang sama juga diutarakan Fikal Mazid yang juga pengurus musala. Dia pun mengatakan jika musala itu memang peninggalan laskar Pangeran Diponegoro. Bahkan menurut cerita keluarganya, Pangeran Diponegoro pernah singgah.

“Maka dari itu langgar gantung ini juga disebut langgar atau musala Diponegoro. Karena berkaitan dengan perjalanan pasukannya di Kota Blitar. Sembunyi dari kejaran pasukan Belanda,” katanya.

Pria kelahiran 46 tahun silam ini menambahkan, jika dibanding dengan musala pada umumnya, Musala An-Nur beda. Contohnya dari bentuknya, masih ada unsur joglonya. Sementara bangunan utamanya berasal dari kayu jati.  Mulai tiang penyangga genteng atau saka juga terbuat dari jati. Itu pula lantai juga kayu jati.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *