“Kalau penuturan mbah-mbah dibangun 1826. Dibangun oleh pasukannya yang sembunyi atau pelarian kejaran dari pasukan Belanda,” katanya.
Sementara bangunan itu berdiri di atas lahan milik keluarganya tetapi sudah diwakafkan untuk umat. Tengara jika bangunan itu peninggalan pasukan Diponegoro, salah satu ciri khas ada pohon sawo di sekitar musala.
Sawo menjadi penanda jika bangunan itu digunakan para pejuang merebut kemerdekaan. “Kalau kata orang dulu kala, ada sawonya. Bahkan sawo itu konon ditanam sendiri oleh Pangeran Diponegoro,” katanya.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sawo kini tinggal dua pohon saja. Padahal dulunya pohon sawo mengelilingi bangunan musala. Termasuk di antaranya ada kolam yang digunakan berwudlu.
Meski usianya ratusan tahun, bangunan musala masih kokoh berdiri. Hanya ada penambahan berupa lantai keramik bagian depan. Sementara dinding dari bambu masih asli. “Selain dinding, bedug dan kentongan juga masih asli,” jelasnya.
Di Ramadan ini, musala juga ramai kegiatan ibadah. Mulai tarawih hingga tadarusan serta majelis taklim. Bahkan tak sedikit wisatawan yang menyempatkan diri untuk wisata religi. Karena musala juga tak jauh dengan kampung opak gambir.
Reporter : Abdul Aziz Wahyudi
Editor : Gimo Hadiwibowo



















