Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong Trenggalek, Mengenang Jasa Pahlawan Tani Ki Ageng Menak Sopal

Namun, larung itu tak menggunakan gajah putih, melainkan diganti seekor kerbau yang diberi nama Suryo Maeso Tunggo.

“Jadi upacara adat ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengenang jasa Ki Ageng Menak Sopal yang telah membangun Dam Bagong sehingga dapat mengairi ratusan hektar area persawahan dan Trenggalek bebas banjir,” imbuhnya.

Sebelum dilarung, kerbau itu menjalani rangkaian adat kirab mahesa.

Read More

 

Kerbau itu dibawa dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek sebagai simbol keikhlasan masyarakat soal gajah putih Mbok Roro Krandon yang disembelih Menak Sopal.

Kemudian kerbau itu disembelih oleh masyarakat Kelurahan Ngantru.

“Terima kasih seluruh masyarakat Ngantru dan Desa Kerjo, serta masyarakat yang juga menerima manfaat aliran sungai Dam Bagong. Terima kasih ini bentuk syukur. Kerbaunya memilih yang terbaik jadi syukurnya betul-betul syukur,” ujarnya.

 

Dalam kegiatan itu, warga berebut kepala, kaki dan kulit kerbau yang dilarung.

Sementara, dagingnya oleh warga sekitar diolah dan dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Kegiatan itu selalu sukses menyedot animo masyarakat sehingga menambah ragam destinasi budaya di Trenggalek.

Selain larung, terdapat rangkaian kegiatan lainnya dalam tradisi adat bersih desa Dam Bagong.

 

“Kepala itu adalah simbol kehormatan, kepercayaan. Jadi ini sedekahnya orang banyak, kemudian diperebutkan orang banyak juga kepalanya yang merupakan simbol kepercayaan tertinggi. Semoga nanti warga suka cita berbahagia,” pungkasnya.

Reporter  : Angga Prasetya

Editor      : Gimo Hadiwibowo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *