Triadi menyebut, pengiriman bantuan air bersih itu tak serta merta dilakukan karena ada proses auditor di lapangan untuk memastikan daerah terdampak layak menerima bantuan air bersih. Dari hasil verifikasi di lapangan, di daerah itu masih banyak sumber air yang belum bisa diakses masyarakat.
“Sehingga, kami kirim bantuan air bersih untuk mencukupi kebutuhan keseharian masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga :Bobol Toko Rokok di Ngasem Sembunyi di Bagasi Mobil, Massa Yang Menemukan Langsung Mengharjarnya
Pengiriman air bersih di 5 kecamatan itu mengalami perluasan ketimbang sebelumnya. Meskipun demikian, pihaknya memprediksi jumlah kekeringan pada tahun ini tidaklah sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Tahun 2023, sebanyak 43 desa di 14 kecamatan mengalami kekeringan. Bahkan pada tahun lalu selain krisis air bersih, puncak kemarau mengakibatkan sebanyak 53 peristiwa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari 29 desa di 11 kecamatan.
Baca Juga :Sopir Nyambi Pengedar Narkoba Diamankan
“Kondisi itu dipengaruhi dampak kekeringan meteorologis, kondisi lebih kering dari tiga tahun sebelumnya. Semoga dampak kemarau ini tidak separah sebelumnya,” pungkasnya.



















