Bertaruh Nyawa Demi Bendera Pusaka, Cerita di Balik Pembentangan Merah Putih di Tebing Spikul Trenggalek

Cerita di Balik Pembentangan Merah Putih di Tebing Spikul Trenggalek
Potret pembentangan bendera pusaka di Tebing Spikul Trenggalek. (angga/sejahtera.co)

Baca Juga :Puluhan Kios Masih Kosong, Disperindag Kota Blitar Surati Pedagang

Bagi mereka kegiatan itu sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan, yang disesuaikan dengan hobi komunitas mereka.

“Pengibaran bendera pusaka di Spikul sudah menjadi tradisi tahunan FPTI Jatim sejak 1998,” imbuhnya.

Read More

Pada momentum HUT ke-/79 Kemerdekaan Republik Indonesia lalu, komunitas pemanjat tebing itu mengerahkan lima pemanjat profesional.

Mereka adalah Mohammad Hosein Pandu (23) dan Ramadhanu Imsaqi Ulany (22) dari IMPALA UB Malang, Krisna Eko Wachyudi (23) dari FPTI Tulungagung, serta Sukma Aji Dewantara (17) dan Tatot Hermansyah (18) dari Kompasneda Trenggalek.

Baca Juga :DPRD Kota Blitar Bentuk Lima Fraksi, Ini Kata Ketua Pimpinan Sementara

“Peserta berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kabupaten Trenggalek, Tulungagung dan Malang,” ujarnya.

Lima pemanjat profesional itu telah melalui rangkaian tahapan panjang hingga akhirnya diberikan mandat untuk menjadi petugas pembentangan bendera berukuran besar itu.

Tak mudah. Itulah ungkapan yang pas sehingga mereka harus mempersiapkan sebaik mungkin. Terlebih angin kencang dan cuaca yang terkadang tidak menentu sering menjadi hambatan besar bagi mereka.

“Kami harus mempersiapkan diri dengan latihan intensif sehingga bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Baca Juga :Nahas Lansia Asal Kelurahan Jagalan Meregang Nyawa, KapolreK Gurah: Diduga Tabrak Lari

Sejak pertama kali dilaksanakan, tradisi ini terus berlangsung hingga kini. Tak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan para pemanjat tebing, kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya mempromosikan keindahan alam yang dimiliki Bumi Menak Sopal, sebutan lain Kabupaten Trenggalek. Tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sekitar.

“Tradisi ini tak hanya menjadi momen kebanggaan, tetapi juga cermin bagaimana semangat kemerdekaan bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk perjuangan,” kata dia.

Dia bersama komunitasnya tak menafikkan, bahwa perkembangan teknologi membuat peralatan panjat tebing kian modern dan aman. Namun juga tak dapat dipungkiri risiko yang mengintai tetap ada. Untuk itu setiap anggota harus memiliki mental baja ditunjang fisik yang prima.

Baca Juga :Video Pemukulan Kurir Paket Viral di Media Sosial, ini Penjelasan Kapolsek Kesamben Jombang

Hal itu salah satunya diwujudkan dalam pembentangan bendera pusaka di Tebing Spikul sebagai simbol keberanian, perjuangan dan semangat kemerdekaan yang tak pernah padam.

“Mendaki tebing dan mengibarkan bendera pusaka adalah cara kami menyatu dengan alam, menghadapi tantangan, dan mengenang perjuangan para pahlawan bangsa. Ini adalah warisan kami dan kami berharap tradisi ini terus hidup hingga generasi selanjutnya,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *