Bertaruh Nyawa Demi Bendera Pusaka, Cerita di Balik Pembentangan Merah Putih di Tebing Spikul Trenggalek

Cerita di Balik Pembentangan Merah Putih di Tebing Spikul Trenggalek
Potret pembentangan bendera pusaka di Tebing Spikul Trenggalek. (angga/sejahtera.co)

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Pemandangan tak biasa terlihat setiap tanggal 17 Agustus di Tebing Spikul Trenggalek. Bendera Merah Putih berukuran besar terlihat berkibar megah di ketinggian.

Namun, di balik itu tak banyak yang tahu, di balik berkibarnya Sang Saka Merah Putih ada perjuangan komunitas pemanjat tebing yang mempertaruhkan nyawanya demi berkibarnya bendera pusaka.

Baca Juga :Kala Petugas Pemadam Kebakaran Trenggalek Jebol Rumah Warga untuk Evakuasi Hewan Liar, Begini Ceritanya

Read More

Siapa yang tidak mengenal Tebing Spikul, sebuah tebing yang terletak di Desa Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Dengan ketinggian sekitar 450 meter dari permukaan laut, menjadikan Tebing Spikul menjadi tebing tertinggi di Jawa Timur.

Tebing dengan karakter bebatuan andesit itu menjadi jujukan wisatawan pencinta adrenalin.

Di lokasi itu terdapat wisata via ferrata (sparta), sebuah jalur khusus yang disediakan bagi wisatawan pencinta panjat tebing yang bisa diakses oleh pemanjat non profesional.

Dengan merogoh kocek yang terbilang ramah, para wisatawan dapat menikmati sensasi memanjat tebing serta pesona keindahan antara bumi dan langit.

Baca Juga :Pabrik Limbah B3 di Jogoroto Jombang Disegel KLHK, Ternyata ini Permasalahannya

Dengan ketinggian yang super itu, wisatawan dapat menikmati pesona indah yang disuguhi alam.

Hamparan hutan hijau membentang yang dipadukan hamparan biru laut menjadi pesona indah tak tertandingi karya Sang Pencipta, plus bonus angin sepoi-sepoi yang semakin memanjakan wisatawan. Tentunya untuk menikmati wisata itu didampingi pemanjat profesional.

Selain itu di balik pesona indah Tebing Spikul adalah pemandangan lain yang hanya bisa dinikmati dalam momentum peringatan kemerdekaan. Yaitu bendera pusaka yang dengan gagah membentang dan dapat dinikmati dari beberapa sudut.

Pembentangan bendera pusaka itu dilakukan oleh komunitas pecinta panjat tebing di Jawa Timur.

Baca Juga :DKPP Kota Blitar Targetkan Rehab Pasar Ikan Hias Akhir November Kelar

Arif Ghondani salah satunya. Salah satu pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jatim itu menyebut, tradisi mengibarkan bendera pusaka itu merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan sejak tahun 1998.

Dengan peralatan yang memadai para pemanjat profesional berjibaku membentangkan bendera dengan ukuran 30×20 meter pada ketinggian sekitar 270 meter dari atas tanah.

“Ini bukan hanya soal kemampuan fisik, melainkan juga mental. Kami ingin menunjukkan bahwa semangat juang untuk negara tidak pernah padam,” kata Arif.

Berawal dari rasa terpanggil untuk melakukan sesuatu yang bermakna serta memberikan kesan positif pada sebuah daerah, para anggota komunitas pemanjat tebing itu memutuskan untuk menggelar rutin kegiatan itu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *