Selain itu ada delapan desa di Kecamatan Trenggalek dan tujuh desa di Kecamatan Pogalan. Desa terdampak di Trenggalek meliputi Ngares, Sumberdadi, Karangsuko, Sukosari, Parakan, Dawuhan, Kelurahan Tamanan dan Sambirejo. Di Kecamatan Pogalan meliputi Desa Ngulanwetan, Pogalan, Gembleb, Ngadirejo, Ngulankulon, Wonocoyo dan Bendorejo.
“Kemudian Desa Tanggaran, Sukokidul di Kecamatan Pule, Mlinjon, Wonokerto di Kecamatan Suruh, Sumberejo, Gador di Kecamatan Durenan, Ngulungwetan di Kecamatan Munjungan serta Desa Pakel, Gemaharjo dan Desa/Kecamatan Watulimo,” tambahnya.
Baca Juga :Berhenti Terlalu Mepet, Pemotor di Blitar Tertabrak Kereta Api, Nyawanya Masih Selamat
Wilayah terdampak kekeringan lainnya, lanjut Triadi adalah Desa Pandean, Cakul, Watuagung dan Ngerdani di Kecamatan Dongko, Jatiperahu, Ngentrong, Jati, Kayen, Buluagung di Kecamatan Karangan, Sengon, Srabah, Depok, Masaran di Kecamatan Bendungan dan Wonanti, Ngrayung, Sukorejo dan Wonorejo di Kecamatan Gandusari.
“Sementara untuk wilayah-wilayah terdampak bervariasi, artinya daerah terdampak tahun lalu belum tentu mengalami kekeringan pada tahun ini,” bebernya.
Baca Juga :Lanud Iswahyudi, Izinkan Wilayah Penerbangannya Dilalui Pesawat dari Bandara Dhoho Kediri
Dengan jumlah itu, sebanyak 34.623 warga dari 14.926 kepala keluarga mengalami krisis air bersih. Untuk mencukupi kebutuhan suplai air bersih, warga mengandalkan distribusi bantuan mengingat sumber air didaerah mereka mengering.
Selain distribusi air saban musim kemarau, petugas juga mengusulkan bantuan sumur bor sebagai penanganan jangka panjang.
Baca Juga :Safari Politik, Maidi Janji Lanjutkan Program Lampunisasi, Pavingisasi, dan Beasiswa Mahasiswa
“Untuk bantuan sumur bor di Trenggalek direalisasikan bertahap. Karena mencari sumber air saat kemarau di daerah pegunungan bukan perkara mudah, perlu riset mendalam,” pungkasnya.



















