Kediri, SEJAHTERA.CO – Warga Dusun Boro Lor, Desa Sumberjo, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri menolak pendirian tower BTS. Menurut warga pembangunan akan dampak negatif bagi lingkungan termasuk dari segi kesehatan hingga kenyamanan bagi warga sekitar.
Selain itu warga RT 002 RW 003 juga kecewa karena pendirian itu tidak ada musyawarah terlebih dahulu. Mereka juga membuat surat pernyataan yang berisi tentang penolakan keberadaan tower tersebut.
Bahkan, sekitar belasan rumah warga yang terdampak telah dipasangi stiker bertuliskan “Kami Menolak Pemasangan Tower”.
Dalam surat beruisi pernyataan penolakan pembangunan yang ditandatangani warga Dusun Boro Lor. Adanya Pembangunan Tower BTS di RT 002 RW 003 yang berjarak kurang lebih 50 meter dari pemukiman akan berdampak negatif dari segi kesehatan ataupun dampak keamanan dan juga proses perizinan yang masih dipertanyakan.
Baca Juga :Produksi Tembakau Meningkat, Dispertan Kabupaten Tulungagung: Hasil Panen 1 Ton per 100 Ru
Warga Dusun Boro Lor RT 002 RW 003 meminta pihak berwenang untuk menindak lanjuti ini baik terkait perizinan ataupun dampak yang akan ditimbulkan terhadap warga.
“Tower itu sudah tiga minggu yang lalu. Awalnya ada dari bapak kades melihat itu, terus saya tanya tower-nya apakah jadi atau tidak. Beliau menjawab katanya iya (tower jadi dibangun). Kok warga tidak diajak musyawarah, dia bilang katanya kalau uangnya sudah turun,” kata salah satu warga setempat yang menolak pembangunan tower, Minggu (20/10/2024)
Baca Juga :Pusat Kota Trenggalek Dipatroli saat Pelantikan Presiden
Dia merasa bingung adanya informasi terkait pembangunan tower di lingkungannya. Sebab, sebelumnya belum ada sosialisasi atau musyawarah kepada warga. Akan tetapi, keesokan harinya ternyata sudah ada proses penggalian untuk mendirikan tower.
Ia pun tidak mengetahui adanya penggalian pendirian tower, tapi keesokan harinya semua warga baru mengetahui adanya pembangunan tersebut.
Baca Juga :Pelajar Kampung Inggris Kediri Ditemukan Tewas Tersapu Ombak Pantai Kedung Tumpang Tulungagung
Selain itu, dirinya juga ditelepon temannya untuk menanyakan terkait kebenaran keberadaan tower di lingkungannya dibangun atau tidak.
“Karena saya tidak tahu, akhirnya bertanya ke pemilik lahan, katanya iya (tower dibangun) tapi sementara. Yang aslinya setelah uang turun, saya juga disuruh ke rumahnya ternyata dapat uang 2,5 juta. Rp 1 juta dari pihak telkom, Rp 1,5 juta dari pemilik lahan,” ucapnya
Baca Juga :Kader Golkar dan PKS Kota Batu Siap Menangkan Gumelar-Rudi
Karena benar-benar tidak mengetahui terkait apa yang dimaksud tersebut, akhirnya mencari informasi terkait dampak adanya pendirian tower di lingkungannya.



















