Blitar, SEJAHTERA.CO – Tak banyak yang insan yang peduli dengan kesenian khas daerah. Perkembangan zaman dan minimnya regenarasi menjadikan pelestarian pun terkendala.
Baca Juga :Pasar Hewan Kabupaten Kediri Ditutup Sementara, Ini Penjelasan Plt Kepala DKPP
Di Kota Blitar ada sosok Perempuan yang gigih untuk mempertahankan kesenian khas jaranan. Yakni jaranan eklek. Sosok itu adalah Munarsih, yang gigih untuk mempertahankan kesenian khas Kota Blitar itu. Berikut laporannya
Meski kota kecil, Kota Blitar ternyata punya kesenian khas. Kesenian khas itu adalah jaranan eklek. Layaknya jaranan pada umumnya, jaranan ini adalah khasnya Kota Blitar. Untuk mengiri selama di pentas, ada music pengiring. Mulai gong, kendang, bonang hingga saron atau tatakan yang dipukul dan lain sebagainya.
Gemulai para penari pun seakan membius penontonnya. Di Kota Blitar, jaranan eklek kerap ditampilkan di sejumlah even. Di antaranya ketika ada giat kesenian di kompleks Monumen PETA Kota Blitar. Namun, ciri khas jaranan ini pemeran atau penarinya Perempuan semua, prianya tak a da.
Baca Juga :Semprot Disinfektan Pada Sapi Sebelum Masuk Pasar Hewan
Nah, ternyata sosok di balik kesenian khas itu adalah Munarsih. Perempuan ini sudah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kesenian. Tak tanggung-tanggung sudah 36 tahun menggeluti kesenian. Berkat kegigihannya itu pula, Munarsih mendapatkan penghargaan dari Pemkot Blitar karena dianggap peduli dan kesenian.
“Alhamdulillah tarian tetap eksis hingga kini. Sudah lebih dari 37 tahun sejak diciptakan,” kata Perempuan yang juga pensiunan aparatur sipil negara atau ASN ini.
Perempuan warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar ini pun menjlentrehkan awal mula perjalanan jaranan eklek. Jaranan eklek diciptakan sekitar tahun 1988 lalu.
Perempuan kelahiran 75 tahun silam ini memang gandrung dengan kesenian. Sejak duduk di bangku sekolah dasar atau SD dulu, sudah menekuni dunia tari menari.
Kegigihannya pun dibuktikan dengan bergabung ke sanggar tari di rumah gebang atau Balai Kesenian. Di rumah gebang yang kini berubah menjadi Istana Gebang di Jalan Sultan Agung itu pula tempat masa kecil Bung Karno.
“Saya belajar tari di rumah Bu Wardoyo (saudar Bung Karno,red). Sejak menekuni tari itu saya sering mengikuti lomba hingga diundang ke acara-acara tertentu untuk pentas,” kenangnya.
Nah, berbekal pengetahuan dan wawasan tentang jaranan dan tari, akhirnya pada 1988 lalu, dirinya bersama rekan-rekan memutuskan untuk menciptakan tari atau jaranan baru. Tak hanya itu, juga dilengkapi dengan pemusik pengiringnya.
“Gerakan baru ini saya ciptakan dengan tanpa meninggalkan pakem dari gerakan jaranan itu sendiri. Biar ada seni baru sehingga tidak monoton begitu saja” jelasnya.



















