Munarsih, Sosok di Balik Jaranan Eklek, Kesenian Khas Kota Blitar yang Melegenda, Diciptakan 37 Tahun Silam, Ciri Khasnya Pemainnya Perempuan Semua

Munarsih, Sosok di Balik Jaranan Eklek, Kesenian Khas Kota Blitar yang Melegenda, Diciptakan 37 Tahun Silam, Ciri Khasnya Pemainnya Perempuan Semua
Munarsih menunjukkan buku panduan Gerakan jaranan eklek khas Kota Blitar. (aziz/sejahtera.co)

Baca Juga :Putaran Kedua Liga 1 Indonesia, Pemda Izinkan Arema FC Berkandang di Stadion Supriyadi, Ini Kata Kepala Dispora Kota Blitar

Gerakan tari yang diciptakan Munarsih bersama pegiat seni lainnya itu berasal dari pemikiran tentang kondisi sekitar. Yakni cerita rakyat dan cerita panji. Filosofi dari gerakan jaranan eklek ini mengisahkan tentang karakter dari sang panji yang sedang meninggalkan kerajaan sehingga dalam perjalanan mengalami cobaan hidup.

Sedangkan nama eklek pada jaranan eklek diartikan sebagai suara yang dihasilakan dari alat musik angklung.

Read More

“Nah, di jaranan eklek ini kami beri sentuhan musik angklung. Kalau sebelumnya kan jaranan itu dominan paka alat musik kendang, ganong dan lainnya. Intinya, kami ingin berikan warna musik yang berbeda. Selain itu, pemainnya juga Perempuan semua,” ujar nenek 5 cucu ini.

Perempuan yang masih energik di usia kepala 7 ini pun mengaku bangga. Berkat kegigihan bersama rekan-rekannya itu akhirnya tercipta kesenian khas Kota Blitar. Dirinya berkutat pada tari, sementara rekannya ada yang menjadi sebagai penata musik, penata kostum dan lain sebagainya.

Baca Juga :Turut Berduka, Pj. Walikota Batu Takziah di Kediaman Korban Laka Bus Pariwisata

Untuk menciptakan tari yang klop dengan Gerakan tari, butuh waktu sebulan lebih. Waktu itu digunakan untuk menyelaraskan Gerakan dengan music. Termasuk di antaranya menyesuaikan dengan kostum yang dikenakan.

“Tak disangka, ketika ikut lomba tingkat provinsi atau regional malah menang. Kami sangat senang,” katanya.

Saat ini, dirinya terus memantau dan atensi dengan kesenian ciptaannya. Meski tak sesering ketika kali pertama dulu, Munarsih berusaha untuk membenahi. Diakui atau tidak, karena perkembangan zaman juga ada sedikit perubahan.

Apalagi, rekan dulu yang dulu intensi bergabung ada yang meninggal dunia. Yakni pemain seruling. Ada yang masih bertahan, tetapi terkendala sakit stroke. Yakni pemain kendang.

Baca Juga :Kawasan Jalan Soeta Kediri Harus Bebas PKL dan Steril Parkir Kendaraan

“Untuk i ringan musik jaranan eklek tanpa suara seruling. Namun, saya masih menyimpan rekaman musik aslinya,” imbuhnya.

Saat ini, bersama keluarganya berusaha untuk tetap eksis. Salah satunya dengan mendirikan sanggar Wijaya Kusumo.

Sanggar itu hingga kini masih bertahan dengan dikelola oleh anak didiknya. Selain itu, anaknya juga mendirikan sanggar sendiri. Harapannya, kesenian tari tradisional daerah bisa terus dilestarikan. Generasi-generasi muda harus peduli terhadap seni dan budaya bangsa sendiri.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *