“Ya rugi, untuk menghindari kerugian lebih banyak saya pakai pompa air untuk dibuat semprotan air agar tercipta oksigen, kalau yang lain kan banyak yang mati,” terang Dwi.
Baca Juga :DP2KBP3A Kabupaten Kediri Lakukan Pembinaan dan Pengawasan Anak yang Ngamen Bersama Orang Tuanya
Pembudidaya lain, Hadi Santoso menyebut selain kondisi cuaca penyebab lainnya yakni munculnya belerang yang ada di bawah telaga bercampur dengan air telaga. Ikan keramba cenderung tidak memiliki ketahanan seperti ikan habitat asli.
“Dampaknya 50 sampai 60 persen ikan di dalam keramba mati. Sudah musiman, biasanya setahun bisa dua kali, tapi ini sudah dua tahunan tidak terjadi, baru terjadi lagi sekarang ini,” tutur Hadi.
Dengan fenomena tersebut dirinya hanya bisa pasrah, meski harus mengalami banyak kerugian hingga puluhan juta rupiah. Apalagi kondisi tersebut kerap terjadi setiap tahunnya.
“Imbasnya tentu kita mengalami banyak kerugian, jadi apa boleh buat, karena ya memang fenomena alam. Ada kalau ribuan ekor, bisa sampai ratusan kilo, sampai ton mungkin, bisa puluhan juta ruginya,” tutupnya.



















