Kangen Ludruk dan Besutan, Warga Keluhkan Budaya Jombang yang Kian Pudar

Kangen Ludruk dan Besutan, Warga Keluhkan Budaya Jombang yang Kian Pudar
Cak Suwadi saat menyampaikan kerinduannya terhadap kesenian tradisional Jombang yang semakin tenggelam. (istimewa)

Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi ini ke pihak terkait, bahkan jika tak bisa melalui jalur parlemen, ia akan menggandeng dinas kebudayaan dan komunitas seni lokal untuk mencari solusi nyata.

Tak hanya seni pertunjukan, Sumrambah juga menyoroti bagaimana budaya tradisional bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pertanian.

Baca Juga :Safari Ramadan, Kapolres Blitar Pesan Jamaah untuk Jaga Keamanan dan Ketertiban

Read More

Ia menyinggung tentang Pranoto Mongso, sistem kalender pertanian Jawa yang sudah lama menjadi panduan para petani dalam memahami perubahan musim.

“Kita punya tradisi yang penuh kearifan. Bahkan dalam bertani pun ada ritual khusus untuk menghormati alam. Tradisi seperti ini jangan sampai punah,” tegasnya.

Lebih jauh, Sumrambah ingin agar budaya lokal masuk ke dalam dunia pendidikan, minimal melalui ekstrakurikuler di sekolah. Ia mencontohkan sebuah sekolah di Manduro, Jombang, yang sudah mulai mengajarkan tari sandur kepada siswanya.

“Kalau bisa, seni tradisional ini menjadi bagian dari kurikulum. Anak-anak harus tahu warisan budaya mereka sendiri, bukan hanya dijejali budaya luar,” tandasnya.

Baca Juga :Rumah Pria di Ponorogo Diserbu Pejuang Garis Dua karena Punya Pohon Kurma

Acara sarasehan malam itu dihadiri ratusan warga yang ingin memperkuat karakter masyarakat melalui budaya. Dua narasumber utama, sastrawan Imam Ghozali dan budayawan Nanda Sukmana, berbagi wawasan tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Cak Suwadi bukan satu-satunya yang merasakan kepedihan ini. Banyak warga yang hadir menganggukkan kepala, merasakan hal yang sama. Budaya tradisional yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini terasa semakin asing.

Namun, harapan masih ada. Selama masih ada orang-orang seperti Cak Suwadi yang peduli, dan pemimpin seperti Sumrambah yang mau bertindak, kebudayaan Jombang masih bisa diselamatkan.

Baca Juga :Sanggahan Ditolak, Eks Kepala DLH Kabupaten Ponorogo Jadi Staf di Dinas Perpustakaan dan Arsip

Malam itu, air mata yang jatuh bukan hanya tangisan kehilangan, tetapi juga awal dari perjuangan baru untuk menghidupkan kembali warisan leluhur.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *