Harga produk bervariasi, mulai dari Rp30 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Untuk pasar internasional, harga bisa naik hingga tiga kali lipat dibanding pasar lokal.
Menariknya, Istono melihat pelemahan nilai tukar rupiah sebagai angin segar. “Kalau dolar naik, ya justru kami diuntungkan. Harga jual lebih kompetitif di luar negeri, jadi potensi permintaan meningkat,” ujarnya.
Baca Juga :Lagi-lagi Rencana Pembangunan Bianglala Baru Alun-alun Kota Batu Ditunda
Hal serupa pernah dirasakannya saat krisis moneter 1990-an. Di masa itu, permintaan terhadap kerajinan cor kuningan melonjak tajam. Istono pun tak khawatir soal bahan baku, karena semuanya diperoleh dari dalam negeri.
“Kami ambil dari pengepul rosok di daerah Mojoagung dan sekitarnya, juga dari kota-kota lain seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo,” pungkasnya.



















