“PR saya sekarang bukan hanya soal produksi, tapi bagaimana anak-anak karyawan kami bisa sekolah setinggi-tingginya. Supaya kelak mereka bisa lanjutkan usaha ini dengan lebih baik dan tetap berdampak untuk lingkungan,” katanya.
Baca Juga :Pencuri Motor Dihajar Massa di Candirejo, Ternyata Residivis Tiga Kasus Kriminal
Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah soal konsistensi dan manajemen waktu.
“Sebagai ibu, istri, sekaligus pemimpin usaha, butuh komunikasi yang baik dengan pasangan. Supaya semua berjalan selaras,” tambahnya.
Soal dampak lingkungan, produk kain yang bisa dicuci jelas mengurangi sampah popok dan pembalut yang butuh ratusan tahun untuk terurai. Proses pencuciannya pun hemat air dan minim deterjen, karena cukup menggunakan sabun alami.
Ia juga tak menampik tantangan dari pasar. “Generasi sekarang suka yang instan, malas cuci. Tapi alhamdulillah, makin banyak yang sadar pentingnya produk ramah lingkungan. Kami rutin edukasi lewat online dan juga kerja sama dengan komunitas lingkungan,” jelasnya.
Baca Juga :Sehari 50 Ton Sampah, TPA Tegalasri Overload , DLH Mulai Susun Master Plan dan Rencanakan Perluasan
Usaha yang dulunya dimulai dari kebutuhan pribadi kini berkembang menjadi solusi bersama. Bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga sebagai sumber penghidupan bagi perempuan sekitar.



















