“Karena sektor wisata makin sepi, saya memilih berjualan online agar tetap memiliki penghasilan tambahan,” tambahnya.
Sementara itu, Didik Harianto, pedagang buah dan oleh-oleh di area Jatim Park 1, juga mengeluhkan hal serupa. Ia menyebutkan larangan study tour sangat terasa dampaknya, terutama saat musim libur sekolah yang biasanya menjadi masa panen kunjungan wisata.
“Biasanya Mei sudah ramai karena banyak kegiatan study tour. Sekarang sepi. Kami pelaku UMKM di Batu sangat terdampak,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi ulang kebijakan ini, mengingat wisata edukasi tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Wisata edukasi itu penting untuk pembelajaran siswa dan juga menghidupkan roda ekonomi daerah. Pemerintah sebaiknya mengkaji ulang keputusan ini,” pungkas Didik.
Sebelumnya, pihak Jatim Park 1 mencatat penurunan jumlah kunjungan wisatawan sejak larangan study tour diberlakukan.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi penurunan hingga 30 persen. Bahkan saat libur panjang, jumlah pengunjung tidak menunjukkan lonjakan signifikan dan cenderung fluktuatif.
Baca Juga :SDN 1 Sumberdadi Diusulkan Jadi Sekolah Transit, Pemkab Tulungagung Lakukan Peninjauan
Data terbaru menyebutkan, kunjungan harian wisatawan saat momen libur panjang hanya mencapai sekitar 1.000 orang per hari. Jumlah tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.


















