Malang, SEJAHTERA.CO – Salah satu komisaris PT GAG Nikel , Ahmad Fahrur Rozi lahir di Malang pada 30 November 1971.
Ia menempuh pendidikan tinggi di sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur, mulai dari meraih gelar sarjana di Universitas Islam Raden Rahmat, melanjutkan studi magister di Universitas Islam Malang, hingga menyelesaikan program doktor di Universitas Merdeka Malang.
Ia dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren An Nur 1 Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pondok ini menyelenggarakan pendidikan dengan program salafi yang mengkaji kitab-kitab klasik yang dikemas dalam sistem klasikal Madrasah Diniyah.
Di kalangan pengasuh pondok pesantren Jawa Timur, sosok Fahrur Rozi cukup populer karena kedekatannya dengan politisi dan pejabat negara.
Baca Juga :Dua Jabatan Kosong, Wali Kota Blitar Putuskan Isi Pelaksana Tugas
Namanya juga tercatat di jajaran Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di era kepemimpinan K.H. Yahya Cholil Staquf.
Menanggapi polemik yang menyeret namanya, Fahrur Rozi menegaskan kepada wartawan bahwa posisinya sebagai komisaris di PT GAG Nikel mewakili pribadi, bukan PBNU.
Nama Ahmad Fahrur Rozi mencuat ke permukaan publik. Ia adalah Komisaris PT GAG Nikel, perusahaan tambang yang kini tengah menjadi sorotan akibat aktivitas pertambangan di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Sorotan publik terhadap perusahaan tersebut semakin tajam, terutama karena kegiatan pertambangan tersebut dapat mengancam destinasi wisata Raja Ampat.
Di tengah derasnya kritik dan tekanan dari berbagai pihak, Ahmad Fahrur Rozi tiba-tiba mengeluarkan pernyataan keras.
Baca Juga :Ratusan Ekor Hewan Kurban di Blitar Terinfeksi Cacing Hati, Imbau Tak Dikonsumsi
Ia membantah jika perusahaan tempat dirinya menjabat komisaris telah merusak lingkungan Raja Ampat.
Melalui akun Instagram pribadinya, @gus_fahrur, ia menyampaikan pembelaannya kepada PT GAG Nikel sebagai berikut:
Belakangan ini viral kampanye #SaveRaja Ampat dari Greenpeace yang menampilkan keindahan Piaynemo berdampingan dengan foto dan video tambang nikel di Pulau Gag.
Selain itu, banyak foto hasil editan Al juga beredar luas. Akibat narasi ini, banyak yang mengira lokasi tambang berada di kawasan wisata.


















