Faktanya, aktivitas tambang sebenarnya berada di Pulau Gag, sekitar 40 kilometer dari Piaynemo. Pulau Gag bukanlah destinasi wisata, melainkan wilayah dengan izin usaha pertambangan resmi yang dikelola oleh PT GAG Nikel. Izin eksplorasi di pulau ini telah berlaku sejak 1998, dan ditetapkan sebagai IUP (Izin Usaha Pertambangan) sejak 2017.
Baca Juga :Resep Sate Buntel Sapi Super Simple ala Chef Martin Praja, Ide Menu Daging Kurban yang Anti Bosan!
Secara geologi, Piaynemo adalah kawasan karst yang tersusun dari batu gamping, bukan jenis batuan yang mengandung nikel.
Sementara itu, nikel umumnya ditemukan di batuan ultrabasa seperti laterit atau peridotit. Artinya, secara ilmiah, wilayah seperti Piaynemo tidak memiliki potensi nikel dan tidak mungkin untuk ditambang.
Ini bukan soal pro atau kontra, tapi soal tanggung jawab menyebarkan informasi akurat. Narasi menyesatkan bisa merusak kepercayaan publik dan dimanfaatkan pihak tertentu untuk agenda lain, termasuk narasi separatis untuk ‘memerdekakan Papua’.
Isu lingkungan tetap penting, tapi harus disampaikan dengan jujur. Mari kita kawal dan lindungi Raja Ampat dengan menyebarkan fakta, bukan narasi menyesatkan dan manipulasi.
Unggahan itu pun langsung memicu beragam komentar dari warganet, salah satunya datang dari akun @rezakurnia.29 yang memberi penjelasan logis atas penambangan yang dilakukan PT GAG Nikel.
Baca Juga :Lonjakan Penumpang di Stasiun Kediri, Tujuan Jakarta dan Bandung Paling Diminati
Ia menjelaskan jika jarak 40 kilometer itu setara dengan jarak pondok pesantren yang dipimpin Fahrur Rozi di Bululawang Malang dengan Gunung Bromo.
Jika Gunung Bromo atau Semeru erupsi, dampaknya akan terasa hingga ponpes Fahrur Rozi. Sementara kondisi di Raja Ampat dikelilingi laut, dimana cemaran logam berat dan zat lain lebih gampang menyebar di air.
“Njenengan tego membiarkan warga Raja Ampat niku maem iwak hasil tangkapan yang ternyata tercemar logam berat?” tulisnya. Dikutip Selasa (10/6/2025).
Tak berhenti di situ, akun tersebut juga melontarkan sindiran tajam terhadap posisi Fahrur Rozi sebagai komisaris PT GAG Nikel.
Baca Juga :Daging Kurban Hasil Penyembelihan di Masjid Al Islah Jatirejo Nganjuk Dinyatakan ASUH
Ia mempertanyakan bagaimana Fahrur Rozi yang notabene adalah warga Malang, Jawa Timur, bisa menduduki posisi komisaris di PT GAG Nikel. Menurutnya kursi itu harusnya diisi warga asli Papua yang lebih mengetahui kondisi alamnya.


















