Dengan bahan baku sekam yang mudah diperoleh dan sistem kerja gotong royong, usaha ini dinilai efisien, ramah lingkungan, dan punya potensi besar untuk dikembangkan.
Budidaya jamur tiram sendiri tergolong mudah. Media tanam menggunakan sekam yang dicampur nutrisi khusus, dirawat secara rutin dengan penyemprotan pupuk seminggu sekali, serta pengaturan kelembapan sesuai cuaca.
Ia juga mengatakan, panen dilakukan dua kali sehari: pagi dan sore. Walau saat ini hasil panen masih belum stabil, ia terus belajar dan berusaha meningkatkan kualitas.
“Harga jual dari lokasi budidaya relatif stabil di angka Rp17.000 per kilogram sementara harga di pasaran bisa bervariasi tergantung lokasi dan penjual,” tambahnya.
Baca Juga :Cegah Banjir, Warga Gotong Royong Bersihkan Sampah yang Nyangkut di Jembatan Cerme
Dengan semangat kolektif dan semangat belajar tinggi, para pelaku usaha ini berharap ke depan bisa memperluas kapasitas produksi, memperluas pasar, dan membuka peluang usaha bagi warga sekitar berbasis pertanian organik yang berkelanjutan.



















