PONOROGO, SEJAHTERA.CO – Krisis air bersih mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ponorogo akibat dampak musim kemarau panjang. Hingga akhir Agustus 2026, tercatat sebanyak 342 jiwa warga di dua desa mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Baca juga:Usut Kasus Korupsi Tunjangan Perumahan DPRD Ponorogo Rp3,6 Miliar, Kejari Periksa Bagian Hukum
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, wilayah yang terdampak krisis air berada di Dukuh Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung serta Dukuh Munggur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal.
Kepala BPBD Kabupaten Ponorogo, Masun, merinci jumlah warga terdampak di Dukuh Dungus, Desa Karangpatihan mencapai 189 jiwa. Sementara di Dukuh Munggur, Desa Munggu tercatat sebanyak 153 jiwa.
“Hingga saat ini, total air bersih yang telah kami distribusikan untuk dua desa tersebut mencapai 31.000 liter,” ungkap Masun, Kamis (3/9/2026).
Masun menjelaskan, penyaluran air bersih di Desa Karangpatihan telah berlangsung sejak akhir Juli hingga 31 Agustus 2026 dengan total pasokan mencapai 18.000 liter. Sedangkan untuk Desa Munggu di Kecamatan Bungkal, BPBD telah menggelontorkan bantuan sebanyak 13.000 liter air bersih pada periode yang sama.
Selain dua lokasi tersebut, BPBD Kabupaten Ponorogo juga mulai menerima laporan ancaman kekeringan dari sejumlah desa lain. Saat ini tim reaksi cepat di lapangan tengah melakukan asesmen untuk memetakan kebutuhan penanganan secara tepat.


















