Baca Juga :Berebut Pelanggan Daging Babi, Tetangga Dibacok
Pekerjaan menjamas pusaka bukan perkara sepele. Prosesnya menuntut ketelitian, kehati-hatian, dan kepekaan budaya.
Sudahri dan istrinya memulai proses dari pembasuhan menggunakan air bersih, lalu menggosok bilah pusaka dengan larutan jeruk nipis dan sabun colek.
Setelah dibilas, bilah pusaka direndam dalam air kelapa untuk menetralisir zat kimia, lalu dijemur secara hati-hati. Tahap terakhir adalah proses pewarangan – yaitu merendam bilah dalam cairan khusus racikan warisan leluhur yang dipercaya mampu mengeluarkan pamor (corak unik pada logam) dan melindungi dari karat.
“Ramuan warangan ini bukan dari toko. Ini resep turun-temurun dari nenek moyang saya,” kata Sudahri, sembari menunjukkan sebilah keris berlapis pamor berkilau seperti perak.
Baca Juga :Panpel Sepak Bola Porprov Group B Antara Kabupaten Malang Vs Kota Kediri Disanksi
Sementara itu dengan tarif jasa antara Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per pusaka, pendapatan Sudahri dalam sehari bisa mencapai Rp2,5 juta selama bulan Suro. Namun bagi Sudahri, nilai utama dari pekerjaannya bukan semata uang.
“Yang lebih penting, saya bisa ikut melestarikan tradisi dan membantu orang menjaga warisan leluhurnya. Itu yang membuat saya bertahan,” pungkasnya.



















