“Kalau dulu kita bicara bahaya narkoba saja, sekarang harus ditambah judi online, pinjol dan perundungan,” tegasnya.
Hal yang tak kalah penting, guru wajib turun langsung. Aries mewanti-wanti, selama MPLS guru tak boleh hanya duduk di ruang guru.
Mereka harus ada di tengah siswa, ikut memantau, ikut mendampingi. Ini bagian dari pengawasan agar aksi perundungan yang sering terjadi di awal masuk sekolah bisa dicegah sedini mungkin.
“Kalau masih ada bullying, kami minta ada sanksi. Bentuknya akan disesuaikan dengan tingkatan pelanggaran. Tapi prinsipnya, harus ada efek jera,” tegas Aries.
Baca Juga :KONI Umumkan Hasil Kontingen Kota Batu di Porprov IX Jatim 2025
Tak berhenti di situ. Tahun ini, sejumlah sekolah juga mulai menerapkan Tes Potensi Akademik (TPA) di awal MPLS.
Tes ini dipakai sebagai peta awal, untuk memetakan kemampuan dan kecenderungan bidang minat siswa. Harapannya, jalur pengembangan siswa bisa lebih terarah sejak awal.
Sebagai gambaran, dalam kurikulum baru yang mulai diterapkan tahun ini, siswa bisa terkoneksi langsung dengan bidang pilihannya. Apakah mereka lebih tertarik di IPA, IPS, atau bidang kebudayaan.
Dengan demikian, MPLS lima hari ini sekaligus jadi masa orientasi kurikulum yang lebih konkret.
Ada juga program ‘7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat’ yang diperkenalkan sepanjang MPLS. Mulai dari kebiasaan disiplin, menjaga kebersihan, hormat pada orang tua dan guru, hingga aktif berkreasi.
Baca Juga :Mantan Bos Cabang Bank UMKM Terseret Skandal Korupsi Perumda Panglungan
Dengan konsep baru ini, Aries berharap MPLS tak lagi dianggap sekadar masa orientasi. Tapi sebagai tahap adaptasi penting bagi siswa baru, sehingga siap menghadapi dunia SMA/SMK/MA yang lebih menantang.
“Targetnya, begitu MPLS selesai, anak-anak sudah bisa mandiri, sudah nyaman dengan lingkungan sekolah dan tahu apa yang ingin mereka capai di sekolah,” pungkasnya.



















