BATU, SEJAHTERA.CO – Komunitas Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali (Sabers Pungli) Kota Batu meragukan pernyataan yang menyebut Arboretum atau titik nol Sungai Brantas tercemar.
Pernyataan itu menepis pernyataan yang terbit di media massa dan menyebut Arboretum atau titik nol Sungai Brantas telah tercemar logam berat.
Karena Sabers Pungli meyakini kondisi Arboretum yang menjadi hulu dari Sungai Brantas masih aman dari limbah maupun pencemaran lingkungan.
Aktivis Sabers Pungli Kota Batu, Doddy Eko Wahyudi meminta pertanggungjawaban dengan mempertanyakan detil data yang menjadi dasar bahwa hulu Sungai Brantas tercemar.
BACA JUGA : DPD Golkar Kota Madiun Tegaskan Miliki Hak Atas Lahan Kantor Partainya
“Karena hulu Sungai Brantas yang ada di Kota Batu memiliki sebanyak 273 sumber air sebagai penyuplai air. Baru yang di paling ujung ada Arboretum,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (8/8).
Menurutnya, ada 273 mata air yang menjadi sumber utama di Kota Batu yang masih aktif dan data itu didapat berdasarkan aksi penyusuran hulu Sungai Brantas.
Dari hasil susur sungai, dari 273 sumber air di Kota Batu ini tidak semuanya berada di ruang terbuka dan banyak diantaranya berada di lahan milik warga.
“Bahkan ada juga sumber mata air yang berada di pekarangan rumah warga,” tambah Bayu Sakti, aktivis Sabers Pungli yang lain menimpali pernyataan Doddy.
Dengan fakta yang ada ini, Sabers Pungli mempertanyakan adanya pemberitaam yang menyebut bahwa Arboretum sebagai titik nol Sungai Brantas telah tercemar logam berat.
“Karena itu kita mendorong kepada Profesor Barlah Rumhayati sebagai narasumber dalam pemberitaan tersebut untuk memberikan keterangan lebih detail terkait hasil penelitiannya,” ajak Doddy
Tuntutan itu menurut Doddy untuk menghilangkan kepanikan masyarakat akibat pernyataan yang menyebut adanya pencemaran lingkungan.



















