Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin dan Gus Niam Beri Pembekalan Ratusan Santri Tambakberas

Silaturahmi yang dirangkaikan dengan nonton bareng pertandingan sepak bola Final Piala Dunia antara Spanyol vs Argentina di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1, Pondok Pesantren Tambakberas, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Senin (20/7/2026) dini hari.
Silaturahmi yang dirangkaikan dengan nonton bareng pertandingan sepak bola Final Piala Dunia antara Spanyol vs Argentina di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1, Pondok Pesantren Tambakberas, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Senin (20/7/2026) dini hari. (foto: istimewa)

Jombang, SEJAHTERA.COMenjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi tempat berkumpulnya sejumlah tokoh NU yang memberikan pembekalan kepada ratusan santri.

Baca juga:Angin Kencang Terjang Banjaragung Jombang, Tujuh Rumah Warga Rusak Ringan

Dalam agenda silaturahmi yang digelar di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1, Senin dini hari (20/7/2026), hadir Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, bersama Ketua Umum PP Majelis Alumni IPNU, Prof KH Asrorun Niam Sholeh.

Read More

Kegiatan tersebut juga dihadiri Nyai Dr. Dra. Hj. Lelly Lailiyah, Sekretaris Jenderal Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU Idy Muzayad, sejumlah kiai muda, serta para alumni IPNU. Acara dirangkai dengan nonton bareng pertandingan final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina.

Mewakili Pengasuh Ribath Al Lathifiyah 2, Hj. Mundjidah Wahab, H. Mujtahidur Ridho atau Gus Edo menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh nasional di lingkungan pesantren.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi santri untuk menyerap pengalaman dan nasihat dari para ulama, terlebih Tambakberas tengah bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengajak para santri memanfaatkan masa muda sebagai periode terbaik untuk menuntut ilmu dan meningkatkan kapasitas diri. Menurutnya, usia muda merupakan fase yang tepat untuk mengejar cita-cita karena energi dan peluang masih terbuka luas.

Ia juga mencontohkan semangat belajar yang ditunjukkan Nyai Lelly Lailiyah yang tetap menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral sebagai bukti bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia.

Selain menyoroti pentingnya pendidikan, Gus Niam mengaitkan nilai-nilai sepak bola dengan kehidupan berorganisasi. Menurutnya, olahraga tersebut mengajarkan sportivitas, penghormatan terhadap lawan, serta pentingnya menjaga persaudaraan meski berada dalam perbedaan.

“Nilai itu sejalan dengan semangat kebersamaan yang diwariskan para pendiri NU. Organisasi besar hanya dapat tumbuh jika dibangun melalui kerja sama, bukan dengan mempertajam perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, Gus Kikin menilai sepak bola menyimpan banyak pelajaran yang relevan bagi kehidupan santri. Ia mengajak para santri melihat sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan sarana belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *