Kediri, SEJAHTERA.CO – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri mencatat stabilitas dan pertumbuhan kinerja sektor jasa keuangan di wilayah kerjanya meski ada kenaikan Pembiayaan Bermasalah pada triwulan I tahun 2025.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri mengatkan, stabilitas kinerja sektor jasa keuangan didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan yang kuat, serta sinergi berkelanjutan antar pemangku kepentingan.
Dia mengatakan, pada sektor perbankan, penyaluran kredit tumbuh 3,17 persen secara tahunan (YoY) mencapai Rp 88,52 triliun, didominasi oleh kredit UMKM sebesar 61,34 persen dari total.
Tiga sektor utama penerima kredit terbesar yakni Perdagangan Besar dan Eceran (25,69 persen), Non Rumah Tangga (23,33 persen), serta Industri Pengolahan (15,49 persen).
Baca Juga :Kehilangan Fokus di Awal Laga, Persik Kediri Kalah di Penutup Musim 2024/2025
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 3,62 persen (YoY) menjadi Rp103,81 triliun, dengan dominasi tabungan dan deposito.
“Industri BPR/BPRS juga menunjukkan ketahanan dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 52,45 persen, cash ratio 15,78 persen, serta Loan to Deposit Ratio (LDR) 106,19 persen,” katanya, dalam agenda Media Update yang digelar di salah satu cafe di Kota Kediri, Jumat (23/5/2025) sore.
Jumlah investor pasar modal meningkat 15,54 persen menjadi 415.459 Single Investor Identification (SID). Instrumen reksa dana masih mendominasi, diikuti kepemilikan saham, obligasi, dan Surat Berharga Negara yang masing-masing mencatat pertumbuhan signifikan.
Piutang pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 9,02 persen menjadi Rp7,01 triliun, meski disertai kenaikan Pembiayaan Bermasalah atau rasio Non Performing Financing (NPF) ke 4,21 persen.



















