Harga Kedelai Naik, Ini yang Dilakukan Perajin Tempe di Ponorogo

Harga Kedelai Naik, Ini yang Dilakukan Perajin Tempe di Ponorogo
Hadi Prayitno salah satu perajin tempe yang berada di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman.

Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Kenaikan harga kedelai impor mulai dikeluhkan para perajin tempe di Kabupaten Ponorogo. Kondisi ini memaksa produsen menyiasati biaya produksi dengan mengurangi ukuran tempe agar usaha tetap berjalan.

Seperti diungkapkan salah satu pengrajin tempe yang berada di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Hadi Prayitno.

Dia mengaku terpaksa memperkecil ukuran tempe lantaran harga bahan baku terus merangkak naik, ditambah kenaikan harga plastik kemasan.

Read More

“Semua naik, kedelai naik plastik juga naik, kalau saya naikan harga pembeli berkurang. Ya terpaksa ukurannya kita kurangi,” ungkap Hadi Prayitno, Senin (4/5/2026).

Menurut Hadi, sebelum harga kedelai melonjak, dirinya mampu mengolah hingga tiga kuintal kedelai per hari. Namun kini kapasitas produksinya turun menjadi sekitar 2 hingga 2,5 kuintal per hari.

Baca Juga :Moratorium Belum Cukup, Belanja Pegawai Ponorogo Masih 37 Persen, DPRD Minta Tak Ganggu Layanan Masyarakat

Ia menjelaskan, pengurangan dilakukan dengan menyesuaikan berat setiap bungkus tempe. Jika sebelumnya satu bungkus berbobot 380 gram, kini dikurangi menjadi sekitar 350 gram. Meski ukuran menyusut, harga jual tetap dipertahankan.

‘Untuk harga masih tetap, ada yang Rp2.500, Rp4.000, sampai Rp5.000. Jadi yang dikurangi beratnya sedikit,” jelasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *