Saat Cambuk Menari di Alun-Alun Blitar, Merawat Tradisi Tiban Memanggil Hujan

Bupati Rijanto ketika menjajal  mencambukkan  cemeti ke pemain.
Bupati Rijanto ketika menjajal  mencambukkan  cemeti ke pemain.(foto: istimewa)

BLITAR, SEJAHTERA.COCambuk-cambuk itu menari di udara. Sesekali terdengar suara lecutan yang menghantam tubuh. Di tengah irama gamelan yang bertalu, para pemain tiban bergerak mengitari panggung.

Baca juga:Pisowanan Agung Peringati Hari Jadi ke-702 Blitar, Bupati Ajak Perkuat Semangat Gotong Royong

Kulit memerah. Namun langkah tetap berlanjut.

Read More

Suasana itu menjadi bagian unik dari rangkaian Hari Jadi ke-702 Blitar. Tradisi tiban kembali digelar di Alun-Alun Kabupaten Blitar, Minggu (9/8/2026), sebagai bentuk pelestarian budaya yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat.

Tiban bukan sekadar pertunjukan. Bagi masyarakat agraris di Blitar, tradisi ini lekat dengan harapan akan datangnya hujan, terutama ketika kemarau panjang membuat tanah pertanian mulai kehilangan basahnya.

Bupati Blitar Rijanto mengatakan, pelaksanaan tradisi tiban menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan budaya yang telah mengakar di masyarakat.

“Ini juga dalam rangka melestarikan tradisi budaya Blitar yang sudah turun-temurun melekat di masyarakat,” kata Rijanto.

Tradisi tiban biasanya dilakukan masyarakat, terutama para petani, sebagai ritual untuk memohon turunnya hujan. Di balik gerakan dan suara cambuk yang bersahutan, tersimpan hubungan erat antara manusia, alam, dan kehidupan agraris.

Dalam pertunjukannya, para pemain menari tanpa pakem gerakan yang terlalu ketat. Masing-masing membawa cambuk atau cemeti yang umumnya dibuat dari lidi daun aren. Pada bagian ujungnya dipasang kain atau tali plastik.

Ketika gamelan mulai ditabuh, pertunjukan pun dimulai.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *