“Stop. Kalau bisa sampai nanti kondusif seperti ini ya sayangku semuanya. Supaya tahun depan kita bisa mengadakan acara seperti ini lagi. Boleh ya minta kerja samanya. Jadi kalau teman-teman mau berantem sana di ring, disana tempat untuk gelut,” kata Heppy. Awalnya situasi bisa kondusif. Namun baru saja dilanjutkan, kerusuhan kembali pecah.
“Aku tidak mau kalau seperti itu, apa-apaan kalian ini. Masa iya pendekar berantemnya di tempat hiburan rek, gak malu dengan namanya sendiri,” kata Heppy sedikit kesal dengan ulah beberapa penonton yang memicu keributan.
Rupanya bukan hanya hatinya saja yang ambyar. Suasana-pun berubah jadi ambyar saat lagu pamer Bojo dibawakan. Karena tidak kondusif, akibat penonton yang ricuh, konser-pun benar-benar dihentikan dan Heppy-pun beserta crew berpamitan kepada penonton.
Tak lupa mereka juga mengucapkan terima kasih karena diberikan kesempatan untuk bisa berjoget bersama warga Trenggalek.
“Janganlah jadi jagoan kandang rek, sudah dibilangi malu-maluin kok. Pulang-pulang wajahmu lebam, kapok,” kata Heppy sembari mengucapkan kata-kata pamit kepada penonton, ditambahi oleh MC yang memandu acara tersebut.
Rupanya kericuhan masih berlangsung dan menjalar hingga luar arena. Kericuhan kembali pecah di jalan raya, sekitar 500 meter dari titik lokasi acara.
Karena dinilai mengganggu ketertiban umum dan dikhawatirkan kericuhan semakin meluas, polisi-pun akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan untuk mengurai massa. Beberapa pendekar pun diamankan.
“Ada 11 orang yang kami amankan, empat diantaranya berasal dari luar daerah Trenggalek. Untuk saat ini kami masih lakukan pemeriksaan intensif, karena kita punya waktu 1 kali 24 jam untuk menentukan apakah cukup bukti tindak pidana atau tidak,” kata Kasatreskrim Polres Trenggalek, Iptu Agus Salim, Rabu (30/8).
Agus menambahkan, selain di situ, keributan juga kembali pecah di jalan raya wilayah Kecamatan Durenan. Aksi lempar batu kembali terjadi. Diketahui dari belasan pendekar yang diamankan itu rata-rata terpengaruh minuman keras.
Mereka diketahui berasal dari kelompok perguruan pencak silat yang berbeda. “Kita mencium memang rata-rata mulutnya berbau. Mereka berasal dari dua kelompok yang berbeda,” pungkasnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor : Dhita Septiadarma



















