“Penghasilan jadi kurang selisih per hari 2 juta, itu kan sebenarnya bisa buat bayar in karyawan lah. Penurunan omzet 20 persen per hari. Biasanya habis 100 loyang (kotak cetakan tahu) kurang lebih, sekarang jadi 80 an loyang,” bebernya.
Ia pun berharap agar pemerintah segera mencarikan solusi untuk mengatasi kenaikan harga kedelai impor yang diperkirakan akan mengalami kenaikan.
Rohim khawatir, jika kondisi seperti ini berlangsung lama, tidak menutup kemungkinan para produsen tahu di Jombang akan berhenti produksi tahu.
“Ya mogok kerja. Kalau gak nutut ngapain diterusin bisa rugi. Yang terbaik ya berhenti produksi kalau pemerintah gak ada solusi,” tegas Rohim.
Reporter : Taufiqur Rachman / Agung Pamungkas



















