Jombang, SEJAHTERA.CO – Rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.000 pekerja PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) Jombang terus menuai sorotan. Serikat Buruh Plywood Jombang (SBPJ) mempertanyakan alasan perusahaan melakukan PHK massal karena aktivitas produksi dinilai masih berjalan normal dan perusahaan disebut masih membuka rekrutmen tenaga kerja baru.
Baca juga:Kakak Kandung Diduga Habisi Perempuan Tunagrahita di Jombang karena Bumbu Pecel Habis
Ketua SBPJ, Hadi Purnomo, mengatakan pihaknya menemukan adanya pelamar kerja yang datang ke perusahaan dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, aktivitas produksi, pasokan bahan baku hingga proses bongkar muat peti kemas disebut tetap berlangsung seperti biasa.
“Kalau perusahaan benar-benar merugi, mengapa masih ada perekrutan pekerja baru dan produksi tetap berjalan. Fakta di lapangan menunjukkan aktivitas perusahaan masih normal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (3/7/2026).
Menurut Hadi, temuan tersebut akan menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam proses penyelesaian perselisihan hubungan industrial di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur.
Selain mempertanyakan alasan PHK, SBPJ juga menyoroti penggunaan tenaga kerja alih daya atau outsourcing di perusahaan tersebut. Serikat menerima laporan adanya pekerja outsourcing yang masuk untuk mengisi posisi yang sebelumnya ditempati karyawan tetap.
Pekerja berstatus Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) disebut diarahkan untuk mengakhiri hubungan kerja terlebih dahulu sebelum berpeluang direkrut kembali melalui perusahaan penyedia jasa tenaga kerja.
“Kami menerima laporan adanya pekerja outsourcing yang masuk menggantikan posisi karyawan tetap yang terdampak PHK. Ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kami,” kata Hadi.
Ia mengungkapkan sebagian pekerja sebenarnya tidak sepenuhnya rela menandatangani dokumen PHK. Namun mereka merasa tidak memiliki banyak pilihan karena dijanjikan dapat kembali bekerja melalui sistem outsourcing.
Menurut Hadi, sejumlah pekerja juga mengeluhkan sistem kerja outsourcing yang dinilai kurang menguntungkan. Selain jam kerja yang panjang, pekerja mengaku memiliki waktu yang sangat terbatas untuk keluarga.
“Mereka mengeluh karena sulit mencari pekerjaan baru. Teman-teman yang sudah masuk outsourcing juga banyak yang tidak betah karena harus bekerja hingga 12 jam,” ujarnya.



















