Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Trenggalek memiliki cara tersendiri untuk mengobati rasa jenuh menjalani masa hukuman pidana penjara.
Tak sedikit dari warga binaan rutan kelas II B Trenggalek memilih untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka lewat karya seni, bahkan tak sedikit pula yang memulainya dari awal.
Selain mengobati kejenuhan, kegiatan ini juga menghasilkan keuntungan.
Terik matahari seakan menyengat ubun-ubun kala matahari seolah berada di garis tengah, ketika waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, Senin (30/10). Siulan suara burung, terkadang terdengar lirih dipadu hembusan angin yang sesekali menggerakkan batang-batang pohon sehingga seakan melambai menyambut para tamu yang datang di Rutan Kelas II B Trenggalek.
Seperti penampakan Rutan kelas II B Trengalek pada umumnya. Kesan seram terbesit saat pertama kali melihat dari struktur bangunan. Tembok raksasa menjulang tinggi dibumbui kawat berduri yang mengitari seluruh bangunan.
Kesan seram semakin kentara tatkala menengok pos-pos penjagaan yang dijaga super ketat. Mulai dari pos-pos di tiap sudut sisi bangunan, hingga pos pintu masuk.
Namun kesan seram itu seakan sedikit pudar setelah melihat beberapa warga binaan tengah melukis. Rupanya meskipun di balik kurungan jeruji besi, mereka tetap dapat menyalurkan bakat dan kreativitasnya meskipun di tengah keterbatasan.
Kegiatan melukis itu merupakan salah satu program pembinaan dari Rutan yang terletak di Jalan Supriadi Trenggalek.
Tanpa canggung, sebanyak 7 warga binaan rutan kelas II B Trenggalek menggoreskan kuas di atas kanvas untuk menuangkan imajinasinya membentuk sebuah karya seni yang indah. Ini bukan hanya sekedar mengisi waktu luang di tengah kejenuhan, akan tetapi juga memiliki sisi ekonomi.
Namun yang terpenting adalah para warga binaan tetap dapat menyalurkan bakatnya.
“Ada sekitar 7 narapidana yang menekuni seni melukis di galeri seni Rutan. Mereka memang orang-orang yang punya hasrat untuk melukis, meski sebelumnya tak semuanya memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang seni lukis,” kata Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas II B Trenggalek, Zainal Fanani.
Saban harinya, mereka meluangkan waktu mencoret-coret cat di atas kanvas untuk membentuk sebuah lukisan. Butuh waktu cukup panjang agar mereka bisa mahir seperti saat ini.
Awalnya mereka mendapatkan diklat yang difasilitasi Rutan selama dua pekan. Dalam diklat itu diajarkan berbagai aspek, mulai pencampuran warna hingga ilmu soal gradiasi.
Alhasil, pelan tapi pasti pelatihan itu membuat mereka semakin mahir melukis sesuai imajinasi mereka masing-masing. Ada yang suka melukis abstrak, realistis hingga sketsa.
Karya seni yang dihasilkan dibalik jeruji itu rupanya juga mengundang cuan. Beberapa karya mereka laku terjual hingga mendapat pesanan dari beberapa daerah.
“Beberapa waktu lalu ada pesanan dari Jakarta, sudah kami kirimkan. Jadi kami menawarkan lewat online, atau ada yang beli langsung. Ada juga yang pesan sesuai keinginan pembeli. Lumayan hasilnya bisa membantu kegiatan di galeri dan sekaligus memberi sedikit uang saku bagi yang melukis,” kata Zainal.
Nilai jual lukisan yang dibuat para narapidana bervariasi. Mulai dari Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan ada karya lukisan yang terjual Rp 1,5 juta.
Harga itu bergantung ukuran lukisan dan tingkat kesulitannya. Tak hanya diajari melukis, mereka juga diajari proses hulu hilir seperti membuat kanvas sehingga tidak bingung mencari bahan.
“Jadi bukan hanya sekedar memberikan kegiatan baru bagi mereka agar tidak jenuh. Kami ingin meningkatkan keterampilan dalam hal melukis, kemudian menjadikan melukis ini sebagai sarana penyaluran bakat dan minatnya dan juga tambahan pemasukan bagi mereka dari hasil penjualan,” jelasnya.
Kesempatan itu tak mereka sia-siakan. Dengan sungguh-sungguh mereka belajar, merajut asa, meraih mimpi menjalani kehidupan lebih baik selepas ‘lulus’ menghirup udara bebas.
Sedikit bekal itulah yang nantinya akan mereka implementasikan, demi menyambung hidup setelah terpaksa melepas pekerjaan mereka sebelumnya lantaran tersandung kasus hukum.
“Harapan kami, setelah keluar dari rutan kelas II B Trenggalek, mereka bisa terus berkarya di luar sana, menjadi entrepreneur yang handal. Selain melukis ada ketrampilan pembuatan batik shibori, minuman fermentasi, vas anggrek, celengan dari koran, aneka teh, dan lainnya,” pungkasnya.(*)
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















