Tradisi Manusuk Sima Jadi Momentum Penguatan Wisata Budaya Kota Kediri

Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum. saat mengikuti prosesi Upacara Tradisi Manusuk Sima digelar di kompleks Taman Tirtayasa.
Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum. saat mengikuti prosesi Upacara Tradisi Manusuk Sima digelar di kompleks Taman Tirtayasa.(foto: burhan)

Kediri, SEJAHTERA.CO – Upacara Tradisi Manusuk Sima digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-1.147 Kota Kediri, Senin (27/7/2026). Tradisi tersebut menjadi salah satu rangkaian penting peringatan hari jadi sekaligus memvisualisasikan sejarah berdirinya Kota Kediri yang bersumber dari Prasasti Kwak.

Baca juga:APBN Kediri Raya Bertahan di Tengan Tekanan, Kredit Program Tumbuh 18,73 Persen

Prosesi Manusuk Sima ditandai dengan pengarakan replika Prasasti Kwak sebagai simbol penetapan wilayah yang memiliki nilai historis penting dalam perjalanan Kota Kediri. Pada 2026, tradisi ini dipusatkan di kompleks Taman Tirtayasa.

Read More

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum., mengatakan Tradisi Manusuk Sima beserta berbagai peninggalan sejarah Kota Kediri memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.

Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya Kota Kediri dapat dikembangkan melalui konsep living museum, yakni kawasan yang tidak hanya menyimpan peninggalan sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang hidup bagi masyarakat maupun wisatawan.

“Kota Kediri ini dalam konteks dunia pariwisata modern disebut living museum. Kalau ini dikembangkan luar biasa, saya yakin wisata budaya Kota Kediri ke depan akan semakin berkembang,” ujarnya.

Restu juga menyoroti besarnya potensi Cerita Panji yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan kebudayaan Kediri. Menurutnya, kisah Panji telah menyebar luas ke berbagai daerah di Nusantara hingga sejumlah negara di Asia Tenggara.

Cerita Panji dikenal dalam berbagai bentuk dan nama di sejumlah wilayah. Di Bali, misalnya, berkembang kisah Panji Semirang, sementara di Cirebon dan kawasan Melayu terdapat beragam tradisi seni yang mengangkat kisah serupa.

“Kalau suatu saat ada festival Cerita Panji berskala internasional di sini, itu luar biasa. Karena Cerita Panji merupakan karya asli masyarakat Kediri,” katanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *