“Dikarenakan dampak kekeringan ini, 13 desa itu rutin meminta dropping air bersih dan dalam satu hari kami mengirim maksimal empat truk tangki berkapasitas 5.000 liter,” ungkapnya.
Robinson menyebut, kekeringan tahun ini terbilang lebih parah dibanding tahun sebelumnya, lantaran terdapat satu desa yang tidak pernah melaporkan terjadi kekeringan, mengalami krisis air. Desa yang dimaksud itu yakni Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo.
Menurut Robinson, Desa Mulyosari ini berlokasi di pegunungan bagian barat Tulungagung yang jarang mengalami kekeringan saat kemarau. Dia menduga kekeringan di sana terjadi karena kondisi air bawah tanah yang surut akibat minim pohon tegakan.
Baca Juga :Dua Pengedar Pil Koplo di Jombang Ditangkap, Ratusan Butir Pil Dobel L Disita
“Mungkin karena minim tegakan, karena banyak lahan diubah untuk ditanami rumput gajah, sehingga tanah yang seharusnya menyerap air jadi menyusut,” ujarnya.
Selain rutin mengirimkan dropping air bersih ke masing-masing desa, BPBD juga mengirimkan bantuan tandon air untuk masing-masing desa untuk penampungan sementara.
Baca Juga :Dua Pengedar Pil Koplo di Jombang Ditangkap, Ratusan Butir Pil Dobel L Disita
Sejauh ini sudah ada 80 buah tandon air untuk disalurkan ke masing-masing desa. BPBD juga mengusulkan tambahan bantuan tandon air untuk masyarakat ke BPBD Provinsi maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.



















