Kepala desa ini tidak memberikan keterangan apapun siapa saja dalang di balik proses pengangkutan tanah dari pabrik menuju lahan bakal TPU.
“Pihak ketiga yang mengerjakan yang punya truk, tidak tahu siapa yang punya truk itu. Saya sudah pasrahkan ke mereka semua untuk menguruk tanah makam,” jelas Krisyanto.
Kades Ngrami melanjutkan, dia memilih tanah hitam itu alasannya karena tanahnya gembur sehingga mudah dicangkul saat menggali kuburan. Selain itu ia mengaku jika harga tanah kupasan itu jauh lebih murah dibanding tanah biasa.
Baca Juga :Setiap Paslon Pilkada Kota Batu Dapat 2 Walpri, ini Tugasnya
“Harga tanah ini juga lebih ekonomis,” ujarnya.
Untuk diketahui lahan itu telah diuruk tanah berwarna hitam dengan tebal kurang lebih 1 meter menelan biaya kurang lebih Rp120 juta, untuk pengurukan, pemadatan, dan memagar sekeliling tanah makam.
Kades Ngrami mengaku membeli tanah tersebut menggunakan hasil swadaya masyarakat, Rp100 ribu setiap Kepala Keluarga (KK). Karena kesulitan kalau pakai dana desa.
“Belinya pakai hasil swadaya masyarakat, bukan dana desa. Karena katanya kalau pakai dana desa gak bisa,” pungkas Krisyanto.
Baca Juga :Setiap Paslon Pilkada Kota Batu Dapat 2 Walpri, ini Tugasnya
Terpisah, sumber di Polda Jatim membenarkan bahwa Tipidter telah melakukan penyelidikan terkait tanah uruk makam di Desa Ngrami Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk.
“Yang sudah dimintai keterangan pihak penerima tanah, yaitu para pejabat pemerintah desa. Lalu akan dikembangkan lagi,” kata sumber yang wanti-wanti namanya tidak disebut, Selasa (24/9/2024).
Baca Juga :Miris, Ayah di Kota Malang Diduga Rudapaksa Anak Tiri, Begini Kronologinya
Sementara Direktur PT. Nugraha Jaya Mandiri (NJM), Bagus Setyo Nugroho, mengatakan, perusahaannya tidak menjual tanah galian pondasi dari PT Kasura, tetapi diminta orang dan diberikan secara gratis. “Saya berikan gratis bagi siapapun yang minta,” ucapnya.


















