Beberapa jam setelah menyantap petaka terjadi. Para penerima paket mengaku mual, pusing dan muntah. Bahkan perut terasa kaku. Penerima makanan ada yang gejalanya tiga jam setelah makan ada pula yang keesokan harinya atau 10 jam.
“Badannya lemas dan mual. Dan ternyata hampir semua yang memakan, karyawan dan keluarganya mengeluh hal yang sama,” katanya.
Akhirnya, para korban pun beramai-ramai menuju puskesmas dan ada pula yang berlanjut ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Polisi yang menerima laporan segera bertindak.
Baca Juga :Gus Lik Wafat, Pengajian Malam Rabu, Malam Jumat dan Malam Sabtu Terus Dilaksanakan di Langgar Kulon
Polres Blitar bersama dinas Kesehatan mendatangi puskesmas di Desa Boro, Kecamatan Selorejo untuk pengecekan. Dan memang ada pasien yang keracunan.
Petugas mengambil sampel makanan, feses hingga air liur untuk dicek atau dites. “Dibawa ke dinas Kesehatan provinsi untuk diuji lab,” katanya.
Hasil pemeriksaan sementara, diduga para karyawan dan keluarga yang keracunan itu karena kontaminasi bakteri E-coli.
Baca Juga :RSSA Kota Malang Gelar Grand Lecture, Live Surgery dan Workshop Cadaveric
Diketahui sebelum dibagikan ke penerima, paket makanan gurami bakar itu diletakkan di sekitar kendang ayam. Nah, itu diduga menjadi perantara bakteri hingga akhirnya terkontaminasi makanan.
Keterangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, bahwa dari hasil penyelidikan epidemiologi kepada korban yang dirawat di Puskesmas Boro dan Klinik Pelita Husada dapat diketahui.
Bahwasanya rata-rata masa inkubasi tercepat adalah 4 jam, masa inkubasi terlama 25 jam dan masa inkubasi rata-rata di atas 12 jam dengan gejala umum diare encer/cair, mual, muntah dan pusing.
“Bakteri berupa bakteri kolera atau salmonella atau e-coli.



















