Petani Apel Harus Berkembang, Alfredo Minta Hal ini Jadi Fokus Firhando Gumelar

Petani Apel Harus Berkembang, Alfredo Minta Hal ini Jadi Fokus Firhando Gumelar
Petani apel Alfredo Dhilan G saat bersama Firhando Gumelar melihat pertanian Apel di Kota Batu. (arief/sejahtera.co)

Batu, SEJAHTERA.CO – Dahulu, Kota Batu dikenal sebagai Kota Apel karena kota salah satu penghasil apel terbesar di Indonesia. Namun, komoditas ini tak lagi menjadi favorit bagi para petani di Batu. Sebab, selama ini tidak ada upaya dari Pemerintah Kota Batu untuk mengembangkan pertanian apel.

Baca Juga :Putaran Terakhir Kejuaraan 76 Indonesian Downhill 2024 Bakal Digelar di Klemuk Bike Park Batu

Pengusaha muda sekaligus pemilik Pabrik Apel Celup di Kota Batu, Alfredo Dhilan G. mengakui petani apel di Kota Batu mulai banyak berkurang. Ini karena tidak ada upaya pemerintah setempat untuk mengembangkan komoditas apel yang sejak lama menjadi ikon kota ini.

Read More

“Saya terkadang gemas oleh narasi yang dibangun pemerintah saat ini yang mengatakan bagaimana caranya mempertahankan apel. Karena narasi yang pas bukan mempertahankan, tapi mengembangkan pertanian apel dan olahan buah yang seharusnya menjadi keunggulan Kota Batu,” kata Alfredo, Senin (4/11/2024).

Baca Juga :DKPP Kabupaten Kediri Pastikan Anggur Shine Mischat Aman Dikonsumsi

Menurut politikus muda Partai Golkar Kota Batu ini, pemerintah harus membuka mata bahwa dunia pertanian sudah selayaknya dipandang sebagai sebagai industri. Sehingga ketika bicara soal industri, para petani di Kota Batu harus belajar tentang masalah HPP atau harga pokok produksi. Hingga turunan dari buah apel itu sendiri.

Karena sudah menjadi industri, ada beberapa faktor yang memengaruhi. Misalnya sarana dan prasarana (sarpras), lebih spesifik soal infrastruktur. Pasalnya, di Kota Batu masih banyak jalan-jalan ke kebun-kebun yang masih tanah.

Dengan kondisi akses menuju dan dari kebun masih seperti itu, kata Edo, ini biaya. Karena untuk proses panen misalnya, akses ke dan dari kebun butuh kendaraan untuk mengangkutnya, atau tenaga manusia untuk membawanya ke bawah.

Baca Juga :Proses Sortir Lipat Surat Suara Pilbup Ponorogo Rampung, KPU Temukan Puluhan Rusak dan Tak Layak

“Kalau hujan, mobil tidak bisa lewat karena becek. Sehingga ketika panen, para petani harus memanggul dari atas (kebun) ke bawah. Itu kan cost buat petani. Ironisnya, kondisi ini bukan hanya di kebun saya tapi juga terjadi di banyak lokasi kebun lainnya,” ujarnya.

“Saya berharap walikota baru bisa memahami ini. Dan yang saya lihat memiliki mimpi dan langkah ke depan ini Mas Firhando Gumelar,” tutur Alfredo.

Sementara itu menurut calon Walikota Batu nomor urut 2, Firhando Gumelar, sejak awal ia sudah memetakan masalah pertanian di Kota Batu, khususnya komoditas apel.

Baca Juga :Cegah Pencemaran Emisi, Dishub Tulungagung Kembangkan Becak Listrik, Bakal Dijadikan Moda Transportasi Umum di Kota Marmer

Salah satu programnya adalah meningkatkan hasil produksi para petani apel ini, sehingga nilai jual apel dari Kota Batu bisa meningkat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *