Petani Apel Harus Berkembang, Alfredo Minta Hal ini Jadi Fokus Firhando Gumelar

Petani Apel Harus Berkembang, Alfredo Minta Hal ini Jadi Fokus Firhando Gumelar
Petani apel Alfredo Dhilan G saat bersama Firhando Gumelar melihat pertanian Apel di Kota Batu. (arief/sejahtera.co)

Dengan adanya curhatan dari Alfredo terkait petani dan komoditas apel, ia yakin jika ada niat yang benar, maka pertanian di Kota Batu bisa dikelola dengan baik, ditata dengan benar, diatur dengan regulasi yang sesuai, dan dipastikan hasil bumi Kota Batu akan naik harga jualnya. Apalagi jika hasil bumi itu dilakukan lagi produksi turunan.

“Sarana prasarana itu yang akan kami perbaiki. Termasuk juga harga jual yang rendah. Pemerintah harus hadir untuk mencari titik tengah antara petani dan pembeli,” ujarnya.

Baca Juga :Cegah Pencemaran Emisi, Dishub Tulungagung Kembangkan Becak Listrik, Bakal Dijadikan Moda Transportasi Umum di Kota Marmer

Read More

“Saya juga ingin petani ini bisa menjadikan hasil taninya menjadi turunan lagi. Misal kalau Mas Edo itu dari buah apel menjadi teh apel, menjadi minuman soda, kripik, dan sebagainya. Pasti harganya kan lebih mahal dari harga apelnya,” ujarnya lagi.

“Nah itu harus ada tangan pemerintah yang ikut serta. Baik memberikan pendidikan industri, membuatkan iklim industri, hingga turut serta dalam permodalan atau membangunkan pabrik industri yang bisa digunakan oleh rakyat,” katanya.

Ia mengatakan, dalam visi misinya, ia memiliki program khusus untuk pertanian yakni Layanan Tani Satu Atap dan juga Batu Agribisnis Center.

Baca Juga :KAI DAOP 7 Madiun Hadirkan Terintegrasi dengan Bandara Adisumarmo Solo

Dua program itu memang ia telurkan khusus mengangkat derajat para petani di Kota Batu. Agar Kota Batu kembali dikenal sebagai kota pertanian yang lebih berkualitas dan berdaya saing global.

Baginya, sebagai negara agraris, sudah seharusnya Indonesia itu fokus dalam pengembangan industri pertanian. Jangan sampai kalah dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang bisa mengembangkan pertaniannya dengan baik.

Padahal menurut sejarah, Thailand dulu belajar pengembangan pertanian dari orang-orang Jawa. Makanya saat ini di Thailand banyak kampung Jawa yang ditinggali orang-orang Jawa sejak ratusan tahun lalu.

Baca Juga :

“Kita tidak boleh kalah dengan Thailand yang dulu belajarnya dari leluhur kita di Pulau Jawa. Sekarang kok kita yang tertinggal, kita dulu GURU-nya. Nah ketertinggalan itu harus dikejar. Paslon GURU ingin membawa Kota Batu ini bisa bersaing. Jangan lagi ada cerita tomat di petani hanya dihargai Rp 500 per kilo nya,” ungkapnya.

“Kalau bisa diekspor dengan harga yang tinggi, kenapa tidak. Caranya kita harus belajar dan memanfaatkan teknologi modern untuk menaikkan kualitas produksi. Dan saya siap turun tangan dan mengurus petani Kota Batu,” katanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *